Bismillah..
Sejak merebaknya kasus virus corona, tagar #dirumahaja begitu gencar digalakkan. Lalu, apa kabarnya saya yang hari ini sudah memasuki day 11 sejak si bocah TK libur dan kami lebih banyak #dirumahaja?
Kabarnya adalah: bosan. Entah mulai kapan bosannya. Dasar saya kan bosanan. Makanya semalam jadi pengin nulis ini. Semacam trial n error merawat kewarasan di tengah rasa bosan #dirumahaja selama anak libur, kegiatan juga banyak yang libur.
Saya sempat WA-an dengan 2 orang working mom. Dan kabar mereka adalah: sangat menikmati masa-masa membersamai anak selama libur ini sambil WFH (Work From Home).
Merasa terintimidasi? Masa gue malah bosen sih? Iyalah awalnya merasa begitu. Tapi kemudian saya sadar bahwa: kita beda setelan gaess.. Persamaannya sih kita tetap sama-sama berdoa semoga si Covid-19 cepat hilang dari muka bumi.
Kembali ke saya yang bosan dan bosanan terlebih mood yang gampang sekali naik-turun. Rasanya sudah sejak 2 minggu lalu bahkan sebelum Arra libur, mood saya banyak berantakannya. Apalagi dekat-dekat PMS. Udahlah rasanya gampang bete, gampang capek. Pengin ngeluh tapi maluu..
Iya, saya ga kekurangan berita tentang yang nasibnya lebih buruk dari saya sehingga saya sangat tidak pantas mengeluh. Saya cuma perlu memperbanyak syukur. Tapi kalau sesekali ngerasa bosan dan sebel sama macam-macam hal boleh ga?
Ya udahlah kalau ga boleh. Saya tetap mau cerita sih. Haha..
Hampir 3 minggu sudah kajian di masjid Syarifah Shalihah diliburkan. Diganti kajian online sih. Tapi tetap rasanya beda. Saya kehilangan moment "recharge" semangat. Duduk di kajian dan ketemu ummahat-ummahat sholihah itu rasanya nikmat gaess.
Apalagi setelahnya bisa jajan-jajan. Ini juga nikmat. Meski bukan tujuan utama. Hehe.. Dan saya kehilangan itu semua, termasuk rutinitas jemput Arra di sekolah yang juga bisa jadi hiburan keluar rumah sebentar.
Meski kadang saya masih keluar untuk belanja, ternyata saya kehilangan "moment eksistensi" yang selama ini saya nikmati. Makanya saya merasa bosan.
Lalu bagaimana manajemen emosinya? Ya lumayan tarik-ulur. Seperti biasa saya masih terus mencoba mengkomunikasikan apapun yang saya rasakan dengan suami. Tapi masalahnya ya masih sama: kalau kita pas sama-sama lagi capek terus ga nyambung itu komunikasinya. Terus tegangan arus pendek deh. Konslet. Wkwkwk..
Begitu juga dengan anak-anak, saya pakai jurus tarik-ulur. Kadang saya biarin deh mereka berantakin segala macem sementara saya rebahan. Abis itu jadi kayak komandan nyuruh anak buahnya beres-beres donk. Abis itu kasih mereka reward makanan atau mainan. Jangan dicari di teori parenting manapun. Ini cuma strategi bertahan di bawah tekanan pengin ngomel dan mendelik-delik. Huhuu..
Bisa dibilang #dirumahaja bagi yang punya mood naik-turun seperti saya tidaklah mudah. Pun ketika sudah bertahun-tahun melakukannya. Baru dikasih judul #dirumahaja demi menyelamatkan dunia dari virus corona saja rasanya sudah seperti babak belur melawan musuh raksasa. Musuh itu adalah emosi sendiri yang kadang pengin meledak tak tahu waktu.
Daaan.. akhirnya saya memberanikan diri berbagi tips merawat kesehatan mental selama musim #dirumahaja ini. Khususnya bagi yang moodnya naik-turun seperti saya. Kalau yang moodnya always sehat sih silakan cari tulisan yang lebih profesional ya. Hehe..
Tips pertama dan utama, jaga kedekatan dengan Allah. Berasa banget lalai sedikiit aja, hancur ini mood. Ya paham kan karena Allah yang pegang hati kita. Selaluu diingetin sama Pak Kasad untuk sering-sering istighfar, rajin dzikir. Tapi dasar aku suka lupa. Hiks.
Turunkan standar. Ini tips yang udah populer dimana-mana. Tapi emang berasa betul. Ya sudahlah kalau semasa #dirumahaja kamu belum bisa berprestasi bikin cake atau masakan cantik atau crafting unik kayak yang ibu-ibu lain posting. Anak-anak diceplokin telor aja girang kalau lapar. Wkwkwk.. Jadi biarin deh mereka main sampai capek dulu. Yang penting setelahnya tugas sekolah online tetap kekumpul. Hehe..
Jaga kenyamanan badan. Dari badan turun ke hati. Eciyee.. Ya maksudnya kalau badan enak, ga laper dan ga kenyang-kenyang amat, ga risih karena keringetan, ga ngantuk, maka insyaAllah emosi-emosi negatif lebih jarang mampir. Saya sih usahakan ga nahan lapar dan banyaki minum air putih. Juga sering mandi. Entah itu tengah hari atau sebelum tidur, mandi bisa membantu merilekskan tubuh dan pikiran buat saya.
Ngobrol pagi dan malam dengan suami. Bagi saya, pagi dan malam itu masa-masa kritis membangun mood. Kalau pagi bisa ngobrol santai rasanya dapat cukup suntikan semangat, setidaknya sampai sore. Nanti malamnya tinggal berharap banget bisa ngobrol menuangkan uneg-uneg tentang polah bocah dan segala macam dari siang sampai sore tadi. Mohon pengertiannya ya pak suami. Sembari saya juga berusaha mengerti lelahmu. Huhuu..
Seks yang sehat. Udahlah ya ga usah malu-malu ngomongin ini. Ga usah juga itu buat becandaan #dirumahaja terus negatif corona tapi positif hamil. Karena seks itu memang bermanfaat untuk mengeluarkan hormon oksitosin dan endorfin yang bisa meredakan stress dan membuat rileks sehingga bisa tidur lelap. Jadi semoga suami istri paham aja selama masa #dirumahaja yang rentan stress ini, mereka bisa mengusahakan moment untuk seks yang berkualitas. Aiih, gayanya kayak ahlinya ahli aja. Wkwkwk..
Batasi arus informasi. Berbagai berita dan info-info tentang corona yang begitu masif belakangan ini bisa lho mengganggu kesehatan mental kita. Kita yang dasarnya sehat bisa jadi takut dan khawatir berlebihan yang akhirnya mempengaruhi mood. Makanya saya berusaha baca dan lihat berita yang valid aja. Syukur dapatnya info yang positif-positif aja, tentang mengingatkan untuk tetap tenang dan panduan beribadah selama musim corona ini misalnya. Kan bagus.
Ya wis ya, segitu aja tipsnya. Doakan saya tetap sehat lahir batin. Dan mari sama-sama doakan pandemi ini cepat berakhir. Kita bisa puasa ramadhan dan merayakan idul fitri tanpa khawatir. Aamiin.
*Nurul Ummu Arra
*Bjb, 2 April 2020