Jumat, 26 Desember 2014

Hari Ini Setahun Lalu (2)

26 Desember 2013. Si kecil baru bisa bertemu dengan ayahnya. Ya, setelah si kecil berumur 12 hari, sudah puput pusar, dan sudah diberi nama, ayahnya baru bisa menggendongnya. Adalah izin dari kantor yang harus membuat ayahnya mengundur-undur pulang. Uuh, bundanya sampai gemass -dan mewek. :p

Dan akhirnya, biarlah foto-foto yang berbicara tentang kebersamaan awal mereka..





Minggu, 14 Desember 2014

Hari Ini Setahun Lalu (1)

14 Desember 2013. Jam 2 pagi kebangun gara-gara perut terasa melilit. Terus ke kamar mamake. "Apa mau lahir? Ya nanti pagi-pagi ke bidan. Tidur lagi dulu," tenangya. Dicobalah tidur lagi, tapi melilit-melilitnya tambah asyik.

Jam 4 bangun. Mamake udah sibuk masak,katanya pokoknya siap-siap gasik. Kusempatkan tahajud. Mohon jika memang waktunya, maka mudahkanlah. Setelah itu aku bergegas mandi dan maksa sarapan. Pokoknya harus siap dan kuat.


SMS suami, minta didoakan, ga dibalas. Mungkin masih tidur. Jam setengah 6, mboke datang tergopoh-gopoh. Aku lagi nyapu. Pokoknya dibawa gerak. Mboke bilang, kalau lahir ya lahir yang penting yang gampang. Sebuah doa.

Jam setengah 7 berangkat ke bidan. Diperiksa, tapi belum pembukaan. Disuruh jalan-jalan dulu. Mamake ngantar Panggih ke TK. Kontraksi makin intens. Suami telepon, HP baru dicharge katanya. Kesal, tapi tetap dikuatkan. Jam 9an kaki memutuskan tiduran. Tiap 5 menit perut melilit.

Jam 10 diperiksa lagi, sudah pembukaan 2. Makin, makin melilit. Mengerang. Gigit selimut. Istighfar, istighfar, istighfar. Lepas dzuhur, mulai terasa si jabang makin semangat membuka jalan. Aku hanya ditemani mamake, bu bidan, seorang dukun bayi, dan pembantu bidan. Masuk tahap mengejan, si jabang begitu memaksa keluar.

Jam 13.20 ia lahir. Allohu akbar. Allohu akbar. Lemas seluruh badan, tapi lega tak terkira. Tak ada lelaki. Mamake yang mengadzani. Saking gemetarnya, sampai salah kiri dulu. Lalu diulangi. Sungguh, rasanya langsung mengerti kasih sayang ibu begitu besar. Pada anaknya, lalu anak dari anaknya.

Si kecil lalu IMD. Aku masih kaku menyapanya. "Ayo dek," mencoba menyemangatinya meraih puting. Selebihnya perasaan takjub, bahagia yang membuncah-buncah. Makhluk dari perutku kini ada di dadaku.

Jam 3 mamak dan bapa mertua datang. Mamak sebenarnya sudah tahu dari pagi, tapi tak berani langsung datang ke bidan. Takut ga kuat ngelihat, katanya. Di rumah ia bolak-balik nyapu sembari gemetar dan terus berdoa. "Cantik sekali," puji bapa melihat cucu perempuannya.

Di seberang sana, ayahnya super girang dikabari putrinya telah lahir.Tak sabar dikirimi fotonya, tapi kamera HP sedang rusak. "Mirip mas," hiburku, dan itu benar. Jam 7 malam, kami baru diperbolehkan pulang. Rasanya begitu amazing, di sampingku ada bayiku. Malam pertama menjadi ibu.

Wajahnya ayahnya banget :)


Bersambung..

Jumat, 05 Desember 2014

Bukan Tidak Mau Makan

Ini sudah hari ketika Arra susah makan, atau lebih tepatnya #MenolakNasi. Setiap disuapi nasi, selalu dilepeh. Yang masuk paling lauk dan sayuran favoritnya, wortel. Saya kesal sekaligus khawatir. Alhasil harus putar otak agar tetap ada pengganti nasi yang masuk.

Dikasih jagung manis, lumayan doyan. Dikasih oats, dilepeh. Dikasih macaroni, asyik dicimiti sendiri. Tapi saya tetap ngeyel Arra harus makan nasi. Rasanya belum “anteb” kalau belum lihat Arra lahap makan nasi. Ayahnya tetap bilang, “sabaarr..”

Sore tadi, saya lagi malas marah dan kesal. Jadilah saya kasih Arra piring berisi secimit nasi, secimit ikan, secimit daging ayam, seiris telur, dan dua keping wortel. Terserah mana yang mau dimakan. Saya duduk di kursi sementara ia di karpet.

Pertama yang dimakan jelas wortel. Lalu Arra beralih pada telur. Diremas, dimasukkan mulut, dilepeh, dimakan lagi. Selanjutnya daging ayam. Dihisap-hisap, tapi terus digeletakan lagi. Duuh, Arra cantiik.. *mulai gemas.. *tahan-tahaan..

Dan.. Ia pun mencomot nasi. Saya sudah menduga akan dilepeh. Tapi ternyata tidak. Nasi berhasil masuk 3 kali meski sambil ganti-ganti gaya. Njengking, njingkong, kaki masuk piring, piring dibalik, berantakan.  Namun, 3 suap nasi sudah sangat melegakan.

Saya hampir mendekatinya, tapi takut merusak semangat makannya. “Wah, Arra pintar!” saya memujinya sambil tetap duduk. Ia masih melanjutkan makan beberapa menit kemudian sampai akhirnya datang menghampiri saya dan saya ajak minum. Melegakan. :)

Akhirnya saya menyadari satu hal penting: dia bukan tidak mau makan, dia mau makan sendiri. Sebenarnya dari usia 8 bulan, Arra sudah saya ajari makan sendiri. Saya beri ia mangkok berisi nasi sedikit untuk ia sendoki atau cimiti sementara saya juga menyuapinya. Sekarang, ia sedang atau sudah tidak mau disuapi. Entahlah. Yang pasti, ini proses belajar. Bagi Arra dan bagi saya. Kudu sabaarr. Luv u, gadis kecilku. :*
Arra belajar makan sendiri

Ini Dia Manajemen ASIP

Kemarin sore, saya ngobrol dengan Bu Rofika, tetangga depan rumah, sambil momong Ara. Bu Rofika sendiri juga sedang mengajak keluar anaknya keduanya, Aufa, yang baru berusia 2 bulan. Kurang lebih begini obrolan kami:
Saya: Itu adiknya Abel namanya siapa ya?
Bu Rofika: Kayaknya Aufa juga.. *muka kecut
Saya: Hah, masa? Tapi kayaknya itu kelihatannya lebih kecil ya sekarang?