Sabtu 16/11/19 saya dijadwalkan cabut gigi. Ciyee "dijadwalkan" macam artis.. Haha..
Sebenarnya saya sendiri yang pilih hari. Setelah ke klinik drg.Nurul Hasna, saya lalu dirujuk ke Poli Gigi RS Idaman Banjarbaru hari Sabtu itu.
Oleh drg.Nurul Hasna saya diajari cara daftar antrian di RS Idaman lewat WA. Jd bisa hemat waktu tidak perlu antri pendaftaran RS.
Pagi itu kami berangkat setengah 8 dari rumah. Kami sarapan bubur ayam Bandung dulu di Ahmad Yani.
Lalu kami langsung ke RS. Benar saja, disana pendaftaran sudah ramai. Untungnya kami sudah terdaftar dan langsung ke poli saja.
Di poli saya meletakkan kertas rujukan di meja di depan ruangan tindakan poli gigi. Setelah setengah jam Azzam dan Arra mulai bosan. Jadilah mereka diajak jalan-jalan ayahnya. Sementara saya tetap menunggu dipanggil.
Tak lama saya pun benar di panggil. Pertama di-check tensinya lalu langsung disuruh masuk ke ruangan.
Asli di ruangan agak kagok ya. Akhirnya duduk di pojokan. Lalu dipersilakan naik ke dental chair alias kursi tindakan dokter gigi itu lho.. Datanglah seorang yang saya kira perawat atau asisten dokter. Dia menanyai saya kenapa.
"Ini gigi geraham bungsu udah rusak, mau dicabut aja. Kemarin waktu saya masih di Barabai udah pernah dirujuk ke RS Tanjung tapi saya belum berangkat. Sekarang sudah pindah ke Banjarbaru jadi kemarin itu periksa ke drg.Nurul Hasna terus dilihat terus dibilang posisinya emang ga bagus jadi suruh dicabut aja." Cerita saya lengkap.
"Sakit ga? Saya kasih obat dulu ya biar ga sakit. Nanti kesini lagi 3 hari lagi." Katanya.
Lha? Gimana tho? Saya misuh dalam hati.
"Udah ga pernah sakit koq. Sekarang aja lah daripada saya bolak-balik." Tawar saya. Haha..
"OK bener, kita coba ya." Tantangnya.
Lha masa coba-coba? Huhu..
Lalu mbak perawat atau asisten atau dokter ini menyiapkan bius lokal. Gusi dan langit-langit mulut saya disuntik, gaess..
Rasanya seperti ketusuk duri ikan tapi daleemm.. Sakitt sampai saya meremas ujung lengan baju.
Setelah itu si mbak meninggalkan saya. Rasanya saya jadi beliur terus. Saya kumur dan buang beberapa kali.
Lalu langit-langit mulut dan pipi rasanya mulai kebas. Saya clingak-clinguk nyari si mbak. Ada pasien lain di sebelah saya. Dia dan kawannya sempat ngurusi pasien itu dulu.
Lalu datang seorang ibu. "Tunggu ya Mbak," katanya pada saya. Saya senyum ragu.
Si mbak tadi tampak membongkar lemari peralatan mencari sesuatu.
"Koq ga ada ini? Aku mau bla bla bla..," terdengar dia agak panik. Lalu si ibu mengajaknya keluar mencari alat yang dimaksud.
Aku menunggu lagi.
Beberapa menit kemudian mereka datang lagi. Membawa meja berisi peralatan.
"Kita mau operasi kecil ya," Kata si mbak pada saya.
Iya mba, tau.. Huhu.. Udah jangan nakutin sih. Melas saya dalam hati.
Si mbak lalu mengambil alat seperti palu dan tang kecil. Ya Allah, it's the time.. Saya yang takut refleks buka mulut.
Sementara si ibu ambil posisi di belakang saya memegangi kepala saya.
Dan krek krek.. Si mbak mencongkel si geraham bungsu dua kali lalu menariknya. Rasanya pastilah sakittt. Bayangkan saja bagian tubuh kita ditarik paksa, gaess.. Tapi tetap saya menghibur diri sakitnya tidak seberapa dibanding kontraksi lahiran.
Si mbak mengeluarkan gigi itu.."Sakit ya? Nah dibilangin sih ga percaya." Eh masih nyolot juga nih si Mbak. Tapi gapapa, lega sudah perjuangan..
"Gapapa sakit dikit ya," si ibu di belakang saya malah menghibur. Ia seperti kaget gigi saya sudah berhasil dicabut secepat itu. Lha saya juga kaget, Bu.
Saya melirik gigi itu tergeletak di meja peralatan. Berdarah-darah. Mahkota giginya memang tampak rusak dan kecil sementara akarnya yang besar. Seram lah. Saya yang awalnya punya niatan pengin bawa pulang si gigi buat ditunjukkan ke Pak Kasad malah geli sendiri. Ya lagian buat apa.. Haha.. Sudahlah, good bye my geraham bungsu my wise teeth. Semoga kau tenang dan aku senang. Hehe..
Saya turun dari dental chair itu rasanya kayak masih gemetar ya.. Kayak gak percaya "Ini bener udahan?" Haha..
O ya, saya diberi kasa bulat untuk digigit agar darah dari gusi tidak terus keluar. Saya lalu duduk di samping meja si mbak tadi. Dia menulis resep sembari berkata cepat. "Jangan dipegang-pegang. Jangan dimainkan dengan lidah. Setelah setengah jam kasanya boleh dibuang." Yassalam, masih aja nih si mbak. Saya kan masih gugup dan bingung, mbak.
"Ini udah? Ga dikasih obat?" Tanya saya polos.
"Iya itu obatnya." Dia menunjuk kertas yang tadi dia beri. O iya.. Hehe..
Saya lalu keluar setelah bilang terima kasih.
Saya berjalan mencari apotek RS. Beneran rasanya kayak masih linglung ya.. Ini beneran udah? Aduh, ayah sama anak-anak mana? Apotiknya mana? Aduh sakit. Haha..
Setelah apotik ketemu, saya memberikan resepnya lalu menunggu sebentar dan diberikanlah obatnya. Antibiotik dan penghilang nyeri.
Saya lalu menelpon suami dan ternyata mereka sudah keluar karena Azzam BAB terus nyari pamp*rs donk ke Alfam*rt.. Haha.. Owalah..
Singkatnya setelah masuk mobil saya ditatap aneh oleh Arra. Diketawain Pak Kasad. Dan dicueki Azzam. Haha.. Ga tau ya Bundanya nih habis berjuang sendiri di ruang operasi.
Halah.. Lebay sih. Wwkwkwk..
Intinya alhamdulillah akhirnya tecabut juga si geraham bungsu yang sudah berlubang dan rusak itu. Penantian maju mundur untuk mencabutnya akhirnya tuntas sudah.
Siang itu, saya coba makan dan minum pelan-pelan. Buang liur juga pelan-pelan. Tidur pun pelan-pelan. Tapi ternyata bangun tidur siang, mulut berdarah-darah lagi. Mungkin karena posisi kepala rendah ya, jadi darah dari gusi keluar lagi. Saya lalu berkumur pelan sekali. Saya bersihkan dengan tisu lalu saya browsing donk gimana ini. Saya coba dinginkan kantong bekas teh celup lalu saya gigit di antara gusi tadi. Alhamdulillah setelah beberapa menit, darahnya berhenti dan gusi rasanya lebih rileks.
Keesokan harinya saya sudah berani sikat gigi dan kumur pakai air garam. Hari ini setelah 3 hari, rasanya sudah semakin nyaman. Gusi bekas gigi yang dicabut sudah makin membaik. Sudah tidak terasa sakit atau ngganjel lagi. Alhamdulillah.
Yang mau cabut geraham bungsu juga, jangan takut ya. Semoga Allah mudahkan.