Selasa, 19 November 2019

Pengalaman Cabut Gigi Geraham Bungsu

Sabtu 16/11/19 saya dijadwalkan cabut gigi. Ciyee "dijadwalkan" macam artis.. Haha..


Sebenarnya saya sendiri yang pilih hari. Setelah ke klinik drg.Nurul Hasna, saya lalu dirujuk ke Poli Gigi RS Idaman Banjarbaru hari Sabtu itu.


Oleh drg.Nurul Hasna saya diajari cara daftar antrian di RS Idaman lewat WA. Jd bisa hemat waktu tidak perlu antri pendaftaran RS.


Pagi itu kami berangkat setengah 8 dari rumah. Kami sarapan bubur ayam Bandung dulu di Ahmad Yani.


Lalu kami langsung ke RS. Benar saja, disana pendaftaran sudah ramai. Untungnya kami sudah terdaftar dan langsung ke poli saja.


Di poli saya meletakkan kertas rujukan di meja di depan ruangan tindakan poli gigi. Setelah setengah jam Azzam dan Arra mulai bosan. Jadilah mereka diajak jalan-jalan ayahnya. Sementara saya tetap menunggu dipanggil.


Tak lama saya pun benar di panggil. Pertama di-check tensinya lalu langsung disuruh masuk ke ruangan.


Asli di ruangan agak kagok ya. Akhirnya duduk di pojokan. Lalu dipersilakan naik ke dental chair alias kursi tindakan dokter gigi itu lho.. Datanglah seorang yang saya kira perawat atau asisten dokter. Dia menanyai saya kenapa.


"Ini gigi geraham bungsu udah rusak, mau dicabut aja. Kemarin waktu saya masih di Barabai udah pernah dirujuk ke RS Tanjung tapi saya belum berangkat. Sekarang sudah pindah ke Banjarbaru jadi kemarin itu periksa ke drg.Nurul Hasna terus dilihat terus dibilang posisinya emang ga bagus jadi suruh dicabut aja." Cerita saya lengkap.


"Sakit ga? Saya kasih obat dulu ya biar ga sakit. Nanti kesini lagi 3 hari lagi." Katanya.


Lha? Gimana tho? Saya misuh dalam hati.


"Udah ga pernah sakit koq. Sekarang aja lah daripada saya bolak-balik." Tawar saya. Haha..


"OK bener, kita coba ya." Tantangnya.


Lha masa coba-coba? Huhu..


Lalu mbak perawat atau asisten atau dokter ini menyiapkan bius lokal. Gusi dan langit-langit mulut saya disuntik, gaess..


Rasanya seperti ketusuk duri ikan tapi daleemm.. Sakitt sampai saya meremas ujung lengan baju.


Setelah itu si mbak meninggalkan saya. Rasanya saya jadi beliur terus. Saya kumur dan buang beberapa kali.


Lalu langit-langit mulut dan pipi rasanya mulai kebas. Saya clingak-clinguk nyari si mbak. Ada pasien lain di sebelah saya. Dia dan kawannya sempat ngurusi pasien itu dulu.


Lalu datang seorang ibu. "Tunggu ya Mbak," katanya pada saya. Saya senyum ragu.


Si mbak tadi tampak membongkar lemari peralatan mencari sesuatu.


"Koq ga ada ini? Aku mau bla bla bla..," terdengar dia agak panik. Lalu si ibu mengajaknya keluar mencari alat yang dimaksud.


Aku menunggu lagi.


Beberapa menit kemudian mereka datang lagi. Membawa meja berisi peralatan.


"Kita mau operasi kecil ya," Kata si mbak pada saya.


Iya mba, tau.. Huhu.. Udah jangan nakutin sih. Melas saya dalam hati.


Si mbak lalu mengambil alat seperti palu dan tang kecil. Ya Allah, it's the time.. Saya yang takut refleks buka mulut.


Sementara si ibu ambil posisi di belakang saya memegangi kepala saya.


Dan krek krek.. Si mbak mencongkel si geraham bungsu dua kali lalu menariknya. Rasanya pastilah sakittt. Bayangkan saja bagian tubuh kita ditarik paksa, gaess.. Tapi tetap saya menghibur diri sakitnya tidak seberapa dibanding kontraksi lahiran.


Si mbak mengeluarkan gigi itu.."Sakit ya? Nah dibilangin sih ga percaya." Eh masih nyolot juga nih si Mbak. Tapi gapapa, lega sudah perjuangan..


"Gapapa sakit dikit ya," si ibu di belakang saya malah menghibur. Ia seperti kaget gigi saya sudah berhasil dicabut secepat itu. Lha saya juga kaget, Bu.


Saya melirik gigi itu tergeletak di meja peralatan. Berdarah-darah. Mahkota giginya memang tampak rusak dan kecil sementara akarnya yang besar. Seram lah. Saya yang awalnya punya niatan pengin bawa pulang si gigi buat ditunjukkan ke Pak Kasad malah geli sendiri. Ya lagian buat apa.. Haha.. Sudahlah, good bye my geraham bungsu my wise teeth. Semoga kau tenang dan aku senang. Hehe..


Saya turun dari dental chair itu rasanya kayak masih gemetar ya.. Kayak gak percaya "Ini bener udahan?" Haha..


O ya, saya diberi kasa bulat untuk digigit agar darah dari gusi tidak terus keluar. Saya lalu duduk di samping meja si mbak tadi. Dia menulis resep sembari berkata cepat. "Jangan dipegang-pegang. Jangan dimainkan dengan lidah. Setelah setengah jam kasanya boleh dibuang." Yassalam, masih aja nih si mbak. Saya kan masih gugup dan bingung, mbak.


"Ini udah? Ga dikasih obat?" Tanya saya polos.


"Iya itu obatnya." Dia menunjuk kertas yang tadi dia beri. O iya.. Hehe..


Saya lalu keluar setelah bilang terima kasih.


Saya berjalan mencari apotek RS. Beneran rasanya kayak masih linglung ya.. Ini beneran udah? Aduh, ayah sama anak-anak mana? Apotiknya mana? Aduh sakit. Haha..


Setelah apotik ketemu, saya memberikan resepnya lalu menunggu sebentar dan diberikanlah obatnya. Antibiotik dan penghilang nyeri.


Saya lalu menelpon suami dan ternyata mereka sudah keluar karena Azzam BAB terus nyari pamp*rs donk ke Alfam*rt.. Haha.. Owalah..


Singkatnya setelah masuk mobil saya ditatap aneh oleh Arra. Diketawain Pak Kasad. Dan dicueki Azzam. Haha.. Ga tau ya Bundanya nih habis berjuang sendiri di ruang operasi.


Halah.. Lebay sih. Wwkwkwk..


Intinya alhamdulillah akhirnya tecabut juga si geraham bungsu yang sudah berlubang dan rusak itu. Penantian maju mundur untuk mencabutnya akhirnya tuntas sudah.


Siang itu, saya coba makan dan minum pelan-pelan. Buang liur juga pelan-pelan. Tidur pun pelan-pelan. Tapi ternyata bangun tidur siang, mulut berdarah-darah lagi. Mungkin karena posisi kepala rendah ya, jadi darah dari gusi keluar lagi. Saya lalu berkumur pelan sekali. Saya bersihkan dengan tisu lalu saya browsing donk gimana ini. Saya coba dinginkan kantong bekas teh celup lalu saya gigit di antara gusi tadi. Alhamdulillah setelah beberapa menit, darahnya berhenti dan gusi rasanya lebih rileks.


Keesokan harinya saya sudah berani sikat gigi dan kumur pakai air garam. Hari ini setelah 3 hari, rasanya sudah semakin nyaman. Gusi bekas gigi yang dicabut sudah makin membaik. Sudah tidak terasa sakit atau ngganjel lagi. Alhamdulillah.


Yang mau cabut geraham bungsu juga, jangan takut ya. Semoga Allah mudahkan.

Ke Psikologi Lagi

Jumat 15/11/19, saya akhirnya ke psikolog lagi. Kali ini suami yang agak maksa. Setelah saya undur-undur, jadilah malah suami yang ngajak.


Kami datang jam 8 malam. Langsung naik ke lantai atas bertemu Bu Diah. Melihat saya datang dengan suami dan anak-anak, beliau mengatur kursi untuk kami.


Beliau lalu membuka konsultasi dengan bertanya "Bagaimana kabarnya, Mbak?" Saya jawab "Ya begini lah Bu, masih naik turun." Sambil tertawa ragu.


Saat Bu Psikolog mulai menyapa suami, anak-anak pun mulai eksploratif. Azzam merengek-rengek. Saya inisiatif, "Yuk kita keluar, boleh nonton dulu." Jadilah Arra dan Azzam duduk di depan ruangan sambil nonton Youtube. OK lah, Bu psikolog pasti paham kondisinya.


Bu Diah kembali menegaskan bahwa saya mengalami gangguan mood. Pak Kasad alias suami tekun mendengarkan.


Sampailah ia bertanya,"Jadi bagaimana bantuan yang bisa saya berikan?" Lalu ia bercerita apa-apa saja yang telah ia lakukan selama ini.


Rasanya saya seperti sedang digosipi tapi saya ada juga di tempat itu. Pak Kasad bercerita bagaimana saya kalau sedang marah, bagaimana ia mencoba meredakan tapi saya tetap marah, dst dll dkk..


Saya agak mati kutu ya..


Tapi Bu Psikolog kembali mengulang bahwa saya butuh aktualisasi dan penghargaan. Karena beliau bilang saya punya potensi yang kurang tersalurkan. Dan kondisi yang monoton itu semakin memperburuk mood saya yang gampang berubah. Maka saya perlu mencari kegiatan. Apa saja yang bisa membuat bahagia. Karena yang penting bahagia dulu. Nanti lama-lama passionnya pasti ketemu.


Saya bercerita tentang saya yang main ke rumah Mba Mirza, jalan pagi dengan suami, dan mulai menulis lagi. Saya juga menceritakan saya yang kadang masih kelepasan marah sampai Pak Kasad bingung. Sayapun bingung. Begitu lagi.


Lalu Bu psikolog memuji yang sebenarnya Pak Kasad lakukan selama ini. Dan meminta saya untuk berhenti bermain playing victim, berhenti menyalahkan keadaan dan orang lain atas semua yang terjadi. Banyak bersyukur saja untuk semua yang telah terjadi. Dari cerita saya Bu psikolog tahu masa lalu saya. Ia bilang "Ayo donk ganti jadi mental winner."


Saya berusaha mencernanya. Sesuatu yang saya pahami tapi kadang sulit untuk melakukannya.


Penutupnya, Bu Diah mengatakan bahwa beliau sudah paham kepribadian saya. Tapi  yang bisa merubah sifat hanya saya sendiri. Setelah menyemangati kami, saya dan suami, beliau bilang boleh datang 2 minggu lagi. Tapi kalau tidak datang lagi ya tidak apa-apa karena itulah yang beliau harapkan. Beliau percaya suami telah memberikan pendampingan yang terbaik.


Kami lalu keluar dan pulang. Setelah membayar biaya konsultasi lagi tentunya.


Lalu apakah saya puas atau justru menyesal datang ke psikolog karena ternyata hanya begitu saja?


Tidak. Bagaimanapun saya merasa terbantu. Seperti niat di awal bahwa ini adalah salah satu ikhtiar saya memperbaiki diri. Ketika kemarin itu rasanya sudah bingung sekali dan putus asa dengan diri sendiri maka mencari bantuan ke psikolog adalah hal yang benar. Meski akhirnya tetap perubahan dan perbaikan itu dikembalikan ke diri sendiri.


Maka terima kasih Bu Diah. Terima kasih Pak Suami. Terima kasih anak-anak. Atas semua. Semoga saya bisa menjadi lebih baik setelah ini dan seterusnya. Itu saja. Allahuma aamiin.

Selasa, 12 November 2019

Pagi-Pagi Jalan Pagi (Bag.2)

Sabtu 9/11/19, suami mengajak jalan pagi lagi. Ia bilang malasku harus dilawan.


Aku menatap anak-anak yang masih terlelap. Kami keluar rumah setengah 7 pagi.


Rutenya adalah keluar komplek, ke tempat penjual wadai yang ternyata baru siap-siap, lalu masuk komplek lagi memutar. Kami melihat berbagai macam rumah dan mengomentarinya. Terselip doa dan harapan  bahwa saatnya nanti kami punya rumah sendiri, inginnya yang sungguh baik desain dan lokasinya. Sehingga tidak seperti nasib rumah-rumah yang terlalu rapat atau bahkan kurang terawat.


Dan ternyata begini juga rumah tangga. Perlu desain dan perawatan. Sementara kami belum bisa merawatnya dengan "treatment-treatment" mahal atau liburan ke luar negeri atau bahkan impian kami berkunjung ke Tanah Suci, maka semoga ikhtiar sederhana kami ini bernilai di mata Allah.


Ya, kami mungkin terkadang terlalu terfokus menjadi ayah dan bunda yang baik untuk anak-anak atau bagaimana mencapai target sekian-sekian dalam pekerjaan. Tapi kami lupa menjadi pasangan, sepasang suami istri yang harusnya tetap jatuh cinta ke orang yang sama berulang kali.


Maka saat lari pagi itu aku mencoba menatap suami sebagai laki-laki, pasanganku. Tidak menerus sebagai ayah dari anak-anakku. Aku menatap punggungnya lalu wajahnya malu-malu. Wajah dan punggung yang sama selama 6 tahun pernikahan kami, tapi telah banyak memberi cerita berbeda.


Sesekali aku menggandeng tangannya di jalan yang kurasa tak dilihat orang. Masih malu-malu senang. Sementara biasanya tangan itu sibuk macam-macam, aku ingin memilikinya sebentar tanpa gangguan.


Setelah memutar komplek kami kembali ke tempat penjual wadai. Membeli beberapa wadai yang mungkin disukai anak-anak. Suami mencomot satu dan langsung memakannya. Memberi kode kepadaku untuk dibayar. Dasar.


Kami lalu pulang. Ada rasa khawatir anak-anak bangun dan mencari kami. Ada rasa belum ingin pulang dulu. Rasanya seperti anak muda yang curi-curi waktu pacaran. Ehem.


Dan ternyata sampai rumah anak-anak belum bangun. Lega. Tapi parenting must go on. Kami bangunkan anak-anak. Kami teriaki "Ayo kita ke kolam renang!" Mereka mengucek-ucek mata. Hari itu kami ingin melanjutkan kebahagiaan.


Esoknya kami jalan pagi lagi. Pas hari Ahad kan, jadi harus donk. Tapi saat kami akan berangkat, anak-anak menunjukkan tanda-tanda mau bangun. Jadi daripada tidak tenang, kami ajak sekalian. "Ayo kita jalan-jalan pagi!" Komando ayahnya.


Kami menyusuri komplek dengan rute yang berbeda. Bertemu dengan beberapa bapak dan ibu yang juga lari pagi.


Azzam beberapa kali berhenti di pinggir jalan. Mengamati rumput, tanaman, bunga. Kadang mencabutnya. Mengejar ayam, kucing. Menunjuk macam-macam. Memungut entah apa saja.


Arra banyak bercerita dan berkomentar. Aku merasa sedang punya energi menanggapinya. Ia tampak senang dan tertawa. Merasa bebas dan diperhatikan mungkin. Ah, aku suka moment ini.


Suami kalau ada anak-anak maka akan berubah menjadi ayah. Ia yang banyak menjagai Azzam, menggendongnya, pura-pura ngumpet darinya. Bagaimanapun aku menyukainya. Dia dan karakternya. Dia dan anak-anak. Ya, seharusnya aku selalu menyukai dan mencintainya.


Maka esok paginya kuajak suami jalan pagi lagi. Meski hari itu kami sudah niat puasa sunnah dan you know lah hari Senin. Tapi aku ingin. Dan suami ayo aja.


Rute kami masih sekitar komplek. Kami mencoba aplikasi tracking yang baru diunduh, Relive namanya. Kami selfie, masih asyik mengomentari bermacam rumah, dan bahkan kami lomba lari di jalan yang sepi.


Saat lomba lari itu aku teringat cerita tentang Rasulullah yang mengajak Aisyah lomba lari demi menyenangkannya. Sungguh yang diteladankan oleh Rasulullah pastilah indah.


Ada bahagia yang membuncah. Ada gemas disela nafas yang memburu. Ada lucu dan haru. Mungkin itu akibat dorongan hormon adrenalin dan endorfin. Aku mulai ketagihan.


Besok lari lagi? Semoga tetap semangat. Tetap berjalan menuju perbaikan.


Bismillah walhamdulillah.

Minggu, 10 November 2019

Aku Jebol

Mood baik setelah jalan pagi hari Jumat itu masih bertahan sampai siang. Tapi setelah tidur siang, kepala agak sakit.


Anak-anak kubiarkan bermain di luar sementara aku membereskan beberapa pekerjaan. Setelah beberapa hari sebelumnya rasa tak ada semangat, sore ini rasanya sudah tak nyaman melihat banyak benda berserak.


Sempat kutelepon suami menanyakan mau pulang jam berapa. Katanya sebentar lagi, jam 5an. Kukatakan juga kepalaku agak sakit.


Menjelang maghrib, kupanggil Arra dan Azzam untuk mandi. Setelah beres memandikan keduanya, aku pun ingin mandi. Badan lengket, kepala semakin sakit, dan baju juga agak basah. Tapi Azzam malah naik ke meja makan. Sepertinya ia lapar setelah mandi. Maka kuambilkan nasi dan sop ayam. Kuajak duduk di karpet. Tampak benar Azzam lapar.


Dia kusuapi lahap. Bahkan kemudian menyendok nasi sendiri dari mangkok. Seketika aku jadi senang. Perasaan ingin mandi kutahan dulu. Setelah nasi dan sop di mangkok habis, kutanyai apa Azzam masih mau lagi. Ia mengisyaratkan iya. Maka kuambilkan nasi dan sop lagi. Kusuapi lagi, tapi kali ini sudah mulai pelan makannya sampai akhirnya menolak.


Arra datang duduk di samping Azzam. Kutawari apa mau makan. Ia buka mulut kusuapi. Namun di suapan kedua ia menolak. "Gak mau," katanya.


Aku yang memang sebenarnya sudah merasa tidak nyaman jadi tersulut mendapat penolakan. "Ayo Ra, makan! Lihati makanannya. Bunda mau mandi," perintahku kesal.


Aku bangkit. Tapi sekejap saja kutengok nasi itu sudah ada yang tumpah. Aku tiba-tiba makin tersulut. Arra susah disuruh makan. Tidak menjaga makanannya. Bahkan dilihati juga tidak, sampai akhirnya tumpah.


Rahangku tetiba mengeras. Menahan omelan tapi akhirnya keluar juga. Arra menatapku sedih dan sebal mungkin. Terpaksa dihabiskannya nasi itu. Tapi aku sudah tersulut. Ditambah melihat jam yang semakin mendekati maghrib tapi suami belum juga pulang.


Kutelepon suami. Dua kali baru diangkat. Langsung kucecar kenapa ga pulang-pulang. Masih tanggung katanya, programnya masih loading. Semakin meletup rasanya.


"Kenapa? Kenapa tadi bilang bentar lagi. Aku jebol lagi ini. Anak-anak kumarahi lagi. Sekarang gak tau lagi rasanya. Perutku kaku lagi. Aku gimana ini?" Ceracauku tak karuan.


"Iya, sebentar lagi," pak suami mencoba tenang.


"Kan mas udah paham kondisiku. Masa masih ga ngerti? Ga bisa tolongin aku dulu? Aku jebol lagi ini, udah ditahan-tahan. Sekarang perih lagi perutku. Gimanaa?" Aku makin menceracau, hampir menangis.


Rasa pengin mandi jadi hilang. Kurasakan perut benar-benar tiba-tiba kaku lalu periih sekali. Asam lambung, buih lambung, atau apalah itu bereaksi tanpa bisa kukontrol. Dadaku juga jadi sesak dan sakit. Inikah gejala Psikomatis itu perlahan tapi pasti menguasai tubuhku?


Benar-benar dapat kurasakan dan aku bingung dan kacau lagi rasanya. Kenapa suami rasanya masih tak mengerti aku? Kenapa anak-anak tak kasihan dengan bundanya? Aku jadi benci. Bisikan sedih dan ingin pergi datang lagi.


Namun tak lama suami benar-benar pulang. Ia tak langsung menemuiku yang duduk kesal di ruang tamu. Pulangnya disambut laporan Arra kalau Azzam BAB, jadilah lelaki yang kutahu lelah dari kantor itu langsung menyeboki Azzam. Setelah selesai dan menenangkan anak-anak sebentar, datanglah ia padaku. Kuberikan tatapan marah dan sebal. Masih dengan kepala dipenuhi pikiran "Kenapa kenapa?"


"Gimana ini Mas? Aku jebol lagi. Mas ga ngerti aku. Perutku perih," masih dengan ceracauku seperti di telepon. Dia menatapku bingung, prihatin, sedih juga dan entah apa lagi.


Aku masih terus protes.. Berkali bilang "Aku bingung mas. Mas ga ngerti aku." Karena rasanya masih itu terus yang menyesaki kepalaku. Sampai akhirnya aku benar-benar menangis meraung sesenggukan.


Aku merasa gagal, jebol lagi. Mood yang kujaga baik dari pagi sampai siang rusak saat genting menjelang maghrib. Saat idealnya dalam bayanganku anak-anak sudah mandi, makan dan suami segera pulang. Tapi semua gagal lagi. Ingatan kekesalan yang serupa dari sebelum-belumnya juga seperti terpaksa ditarik lagi. "Aku koq kayak gini terus. Aku koq marah-marah terus. Mas koq ga ngertii aku terus!"


Sakit dan bingung rasanya. Suami terus menenangkan tapi rasanya aku seperti masih sulit menerima nasihat baik saat marah begini. Sampai akhirnya aku merasa mulai lelah sendiri. Aku tergugu melihat wajahnya yang juga bingung dan lelah. Sudahlah ayo maghrib dulu.


Sungguh tak ada yang sempurna dari mood ini jika aku hanya membangunnya sendiri. Kenapa tak kuletakkan saja sebentar, kukembalikan pada pemilikNya saat aku merasa sudah tak berdaya, hampir putus asa lagi.


"Ya Allah, Engkau yang paling tahu isi hatiku, isi pikiranku karena Engkaulah pemiliknya. Engkau yang paling tahu apa yang kuinginkan, apa yang kubutuhkan. Maka tunjukkanlah apa yang terbaik untukku ya Rabb. Lapangkanlah dadaku, jerninkanlah pikiranku. Sembuhkanlah aku." Doaku lirih setelah sholat.


Setelah sholat itu juga suami menatapku. Ia meminta maaf dan bicara lagi. Tapi kubilang sudahlah. Rasanya belum sepenuhnya nyaman ini perasaanku. Nanti adanya malah penolakan terus. Ia bilang maaf itu bisa mempercepat penyembuhan, ibarat katalisator. Kubilang iya, tapi ini mesinnya masih rusak, jadi biar bener dulu, baru nanti dikasih katalisator. Ga bisa kalau masih rusak begini.


Suami lalu mafhum. Entahlah ini benar penolakanku atau apa. Yang pasti aku ingin sembuh dan berubah. Tolong aku dibantu, suamiku. Partnerku, separuh aku.

Pagi-Pagi Jalan Pagi (Bag.1)

Jumat pagi 8/11/19. "Cepet, Yah!" kata saya kepada suami yang sudah beberapa menit di kamar mandi. Kami mau jalan pagi hari ini sekalian mengantar Arra ke sekolah yang jaraknya 600 meteran saja dari rumah. Seperti yang kami sepakati semalam.


Kami keluar rumah sudah setengah 8. Sudah terang dan lumayan panas. Mau menyalahkan suami yang tadi kelamaan di kamar mandi, tapi tahan deh. Takut mood siapa aja bisa rusak.


Azzam seperti biasa semangat. Menggendong tas kecil bertuliskan nama kakaknya. Lucu.


Dan saya menenteng plastik berisi seikat pete. Buat apa? Buat Mba Mirza. Ini juga kesepakatan saya dan suami semalam. Pengin ngasih stock pete di kulkas buat Mba Mirza yang salfok sama foto peteku. Hehe..


Di jalan menuju sekolah, sembari menjagai Azzam yang berjalan kesana kemari, saya ngobrol dengan suami. Entah kenapa rasanya agak beda. Ngobrol dengan suasana yang tidak biasanya. Ada rasa senang dan hangat. Hangatnya matahari juga nyaman mengenai tubuh, jadi berkeringat.


Sungguh kalau bukan karena pikiran yang sedang rileks, mengantar anak sekolah jalan kaki, matahari mulai panas dan bikin berkeringat serta jalan yang cukup ramai bisa banget bikin BeTe. Tapi ternyata semua bisa di-setting. Bagaimana kita bisa berkompromi dengan pasangan, anak-anak, lalu keadaan. Akhirnya terciptalah mood yang baik. Aku mencatatnya dalam hati moment dan pelajaran ini.


Sampai di depan rumah Mba Mirza, Ayah, Arra, dan Azzam saya suruh lanjut langsung ke sekolah aja dulu. "Ke kantin beli bekal dulu ya buat Arra," pesan saya.


Saya lalu memencet bel rumah Mba Mirza. Karena pintu tidak ditutup rapat terdengar Mba Mirza sepertinya sedang teleponan. Suaranya yang khas itu lho.. Saya menunggu.


"Assalamu 'alaikum.." Salam saya agak nyaring berharap Mba Mirza mendengar dan keluar ke depan. Tapi sepertinya masih asyik teleponan. Setelah beberapa saat akhirnya selesai juga teleponnya dan Mba Mirza menyahut.


"Nurul Ummu Arra kah? Masuk sini masuk!" katanya.


Saya masuk. Mba Mirza tampak agak kaget melihat saya. "Lho Azzam mana?" tanyanya.


"Sama ayahnya sama kakaknya jalan duluan ke sekolah," jawab saya. Mba Mirza masih tampak bingung.


"Iya kami jalan kaki. Suamiku tuh seneng banget kuceritai yang kemarin itu. Yang kata pian obatnya jalan kaki aja itu. Ya udah kuajaki jalan kaki bareng sekalian. Masa' nyuruh-nyuruh tok," jelasku sambil tertawa.


Mba Mirza lalu tersenyum lebar. "Nah iya kan, berasa bahagia kan jalan kaki." Aku ketawa lagi. "Iya mba. Hehe.."


"Ini Mba petenya," kuberikan plastik yang kubawa.


Mba Mirza bikin ekspresi lucu-lucu takjub. "Ah, pete. Jazakillahu khairan."


Aku lalu pamit bilang mau menyusul ke sekolah. Mba Mirza bilang terima kasih lagi.


"Jazakillahu khairan ya Nurul."


"Wajazakillahu khairan." Kujawab sambil keluar dari rumahnya.


Akulah yang harus banyak-banyak ber-jazakillahu khairan kepada Mba Mirza ini.


Jazakillahu khairan wa barakallahu fiik, Mba.

Keajaiban-Keajaiban Setelah Konsultasi ke Psikolog (Bag.2)

Bismillah. Lanjut cerita tentang keajaiban-keajaiban setelah konsultasi ke psikolog. Esoknya saya masih ingin meneruskan semangat dan kerileksan yang saya rasakan. Maka tetiba muncul ide: aku nanti mau lihat-lihat poster dan buku di rumah Mba Mirza ah. Sayapun me-WAnya bilang mau datang.


Jam setengah sepuluh pagi saya keluar rumah dengan Azzam. Jalan kaki ke rumah Mba Mirza. Azzam sih senang aja diajak jalan kemana-mana.


Sampai di rumah Mba Mirza, kami disambut kerepotan khas ibu rumah tangga berbalita. Mba Mirza ini baru memandikan Ibrohim yang usianya sekitar 3 tahun. Azzam dan Ibrohim ini teman tapi suka gemes. Hehe..


Selagi Mba Mirza masih memakaikan Ibrohim baju, saya memilih-milih poster anak. Setelah itu Mba Mirza tanya "Nurul mau berangkat tahsin kah?" Mba Mirza yang punya marga Siregar ini memang khas gaya bicaranya. Memanggil saya langsung nama, kadang juga panggil "Ummu Arra".


Saya bilang "Iya sih rencananya."

"Oo kalau gitu nanti kita jalan kaki aja bareng."

Saya tanya apa Mba Mirza udah mau berangkat sekarang. Katanya belum, nanti aja, ada kawannya mau datang sebentar. Maka tiba-tiba saya merasa punya waktu untuk membuka obrolan dengan Mba Mirza ini.


"Lagi bosen di rumah," buka saya.

"Kalau bosen kesini aja. Biasalah itu bosen kalau di rumah terus," sahut Mba Mirza.

"Iya, semalam aku habis dari psikolog.

"HAH? NGAPAIN KE PSIKOLOG. BUANG-BUANG DUIT AJA!"


Aku kaget. Tapi kaget lucu. Seperti yang sudah kubilang, Mba Mirza ini memang khas ngomongnya.


"Bingung Mba.. Aku rasanya bosen dan bingung terus.. Jadi marah-marah terus.. Terus maag kambuh," kataku lirih.


"OH KAMU SAMA KAYAK SUAMIKU BERARTI. GA USAHLAH KE PSIKOLOG LAGI. MAIN KESINI AJA KALAU BOSEN." Tetep ya Mba Mirza dengan suara menggelegarnya. Bikin aku malu tapi lucu.


Diapun lalu cerita kalau suaminya dulu juga seperti aku. Gampang panik dan bingung. Bilang perutnya sakit, dadanya sakit. Takut kalau mati lalu bagaimana istri dan anak-anaknya. Ngotot ngajak ke dokter dan ternyata jantungnya sehat, lambungnya juga bagus. Hanya saja di lambungnya terdapat banyak buih yang dipicu stress. Maka setelah itu Mba Mirza selalu menyemangati suaminya. Dia juga mengajak suaminya sering jalan pagi.


Mba Mirza juga cerita istri dari bos suaminya juga pernah mengalami keluhan yang sama. Yang dokter bilang namanya Psikosomatis. Ibu itu rela ke bayar mahal konsultasi ke banyak dokter. Tapi akhirnya obatnya ketemu cuma: JALAN PAGI.


Lagi-lagi Mba Mirza bilang ke psikolog, ke dokter terus itu cuma buang-buang duit. "Obatnya cuma jalan pagi. Tenang aja. Apalagi kita kan sudah ngaji sunnah. Masa masih khawatir banget sama takdir Allah. Malu lah," katanya. Saya nyengir.


"Iya sih Mba. Tapi saya masih pengin datang ke psikolog 1 atau 2 kali lagi. Biar terurai yang kusut-kusut ini nah di pikiranku. Terus pengin ada sesi sama suamiku juga ke psikolog itu. Biar ketemu," belaku.


"Iya lah.. Tapi bener kalau bosen kesini aja ya. Jangan diam aja di rumah," yakinnya lagi.


"Iya Mba." Aku terharu.


MasyaAllah.. Rasanya seperti "diperjalankan" oleh Allah untuk tiba-tiba pengin ke rumah Mba Mirza dan dibukakan satu rahasia. Bukan rahasia tentang suaminya. Dan bukan cuma tentang bahwa setiap pasangan, setiap rumah tangga punya masalah dan ceritanya masing-masing. Tapi tentang rahasia bahwa untuk memulai hidup lebih rileks dan sehat bisa dimulai dengan: JALAN PAGI.


MasyaAllah tabarakallah.


Pulangnya saya merasa excited donk. Sambil terus mencoba menjaga sabar mengurus bocah lagi karena pas siang itu ayahnya ga bisa pulang dulu karena ada meeting.


Sorenya saya mencoba menyibukkan diri dengan menempel poster yang dibeli dari Mba Mirza. Poster adab anak itu saya gunting-gunting biar bisa dipasang sesuai kebutuhan. Lalu saya kirim fotonya ke Mba Mirza. Dia bilang "kreatif". Lalu kami ngobrol pete. Haha.. Ada kelanjutan ceritanya insyaAllah.


Dan malamnya saat saya cerita apa yang saya alami hari ini dengan Mba Mirza, suami pun jadi excited sekali. Seperti mau bilang dengan bangga "Tuh kan aku bilang juga apa? Aku kan udah sering nyuruh kamu jalan kaki biar sehat." Haha..


Maka malam itu saya menantang suami. "Besok ayo kita jalan kaki bareng. Jangan nyuruh-nyuruh tok. Kan mas juga perlu tu." Saya menunjuk perutnya yang buncit. "Mas kan kalau di kantor juga kurang gerak, duduk terus." Diapun mesem aja.


Alhamdulillah.. Perasaan "feel blessed" itu hadir lagi. Keinginanku adalah semoga bisa terus dijaga. Meski esok tak tahu pasti..

Keajaiban-Keajaiban Setelah Konsultasi ke Psikolog (Bag.1)

Bismillah.. Sesuai janji sendiri, mau cerita "keajaiban-keajaiban" setelah konsultasi ke psikolog.


Jadi setelah keluar dari ruang konsultasi saya telepon suami. Ternyata dia nunggu di seberang tempat praktek. Sebelum masuk tempat praktek psikolog sebenarnya saya suruh suami dan anak-anak pulang aja tau jajan kemana dulu. "Bunda kayaknya lama," pesan saya. Tapi ternyata mereka ga kemana-mana.


Masuk mobil, saya lihat muka anak-anak yang bosan. Ya, sejam lebih dikit di mobil. Saya tanya ngapain aja. Mereka bilang nonton aja sama ayah. Saya berusaha ga mencecar. Saya lihat suami ada raut bosan dan capek juga.


Arra juga mengeluh haus. "Iya, kita ke Indomar*t aja. Bunda sekalian mau beli pamp*rs."


"Ayah mau makan apa nanti?" Tanya saya ke suami. Tapi suami malah penasaran berapa dan bagaimana tadi di psikolog. Saya cerita sedikit. Sedikit terbata.


Di depan Indomar*t, Arra ikut turun. Azzam juga minta ikut. Ayahnya mencegah, mengajak Azzam ikut beli sate aja. Tapi saya bilang gapapa, sembari menggendong Azzam. Tetiba kasihan sama Azzam. Bayik ini sudah cukup banyak diacuhkan bundanya.


Maka masuklah kami ke Indomar*t dengan segala resikonya. Azzam tampak excited. Apalagi boleh turun. Arra minta mainan tapi saya bilang tadi kan katanya mau beli minum aja. Alhamdulillah kedua bocah nurut beli susu botol aja.


Saya keluar Indomar*t dengan menggendong Azzam dan menenteng Pamp*rs dengan tangan. Juga menjagai Arra menyeberang. Sungguh bagi orang waras ini tampak mudah walau sedikit repot. Tapi bagi yang sedang bermasalah dengan dirinya, masuk ke minimarket dengan dua bocah bisa sangat stressing. Alhamdulillah kali ini berasa lebih rileks. Bolehlah ini dibilang "keajaiban" pertama setelah konsultasi ke psikolog. Saya ingin menjadi lebih sabar dan rileks demi dan untuk anak-anak.

Kamis, 07 November 2019

Pengalaman Pertama Kali Konsultasi ke Psikolog; Ga Usah Takut! (Bag.2)

Sampai ke tempat praktek Bu Diah Herawati, saya disambut oleh dua orang wanita. Setelah saya bilang mau konsultasi ke psikolog, saya langsung diajak ke lantai atas. Jadi tempat prakteknya ini merupakan sebuah ruko yang di lantai bawah untuk praktek dokter gigi sementara lantai atas adalah untuk praktek psikolog klinis. Dan ternyata yang mengajak saya ke lantai atas adalah Bu Diah Herawati sendiri. MasyaAllah..


Kesan pertama beliau ini cantik dan baik. Okelah, hilang satu ketakutan dapat psikolog yang gak friendly.. Emang ada gitu psikolog yang gak friendly? Mbuh sih.. Hehe..


Lalu saya dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan kecil. Di depan ruangan itu ada kursi-kursi seperti untuk kelas atau pertemuan. Sedangkan di ruangan kecil itu tentu saja ada meja dan kursi konsultasi.


Saya yang tampak kaku duduknya langsung beliau hibur dengan "Santai saja. Duduknya boleh senderan."


Dan saya pun masih agak kaku cerita. Maka beliau pun menghibur lagi, "Iya cerita aja."


Dengan sedikit terbata-bata saya pun memulai cerita saya.. "Saya ibu rumah tangga.. Tapi belakangan bingung dan bosaann sekali rasanya.."


Bu psikolog tekun mendengarkan saya.. Saat dia tahu saya mulai menahan tangis, "Gapapa bu nangis aja.. Gapapa.. Keluarkan aja," hiburnya.


Saya berusaha bercerita dengan runut. Saya ceritakan latar belakang saya dan suami. Kapan saya menikah, lalu ikut ke Samarinda, saya punya anak, datang ke Barabai dan beberapa lika-likunya. Beliau memastikan usia saya dan suami. Ya, saya dan suami selisih 8 tahun. Saya ceritakan bagaimana suami meminta saya untuk di rumah saja dan mengurus si kecil. Saya kisahkan bagaimana suami tak kurang menasehati dan menghibur saat saya mengeluh bosan dan ini itu. Saya uraikan bagaimana saya coba mensugesti diri saya untuk tidak banyak pikiran. Tapi ketika mood buruk datang rasanya semua tak enak. Tak enak makan, tak nyaman tidur. Pikiran jadi kemana-mana. Dan jadilah marah-marah dan merasa bersalah.


Saya ingin berubah. Saya merasa anak-anak berhak mendapatkan ibu yang tidak sebentar-bentar marah.


Bu psikolog tampak mulai paham masalah saya. Beliau lalu mengeluarkan beberapa kartu berwarna berbeda. Sepertinya ada 7 lembar. Beliau kemudian meminta saya mengurutkan kartu dari warna yang paling saya suka sampai yang paling saya tidak suka. Saya menurut mengurutkannya. Beliau selanjutnya tampak mencatat. Lalu meminta saya mengulanginya lagi.


Setelah itu, beliau menyampaikan bahwa saya mengalami gangguan mood. Saya langsung mafhum. Sepertinya benar itulah yang saya alami sejak lama. Hanya saja saya belum bisa merumuskan istilah apalagi penangannya sendiri dengan benar.


Beliau bilang gangguan mood itu memang naik turun dan menyebabkan rasa bosan serta perasaan tidak berdaya itu tadi. Maka saya harus mencari kegiatan yang saya senangi yang dapat mengisi kebutuhan akan aktualisasi diri saya yang kosong. Dan cobalah cari teman yang nyaman untuk cerita. Agar tidak memendam perasaan tertekan saat ada masalah atau bosan. Mungkin ustadzah atau teman di kajian, sarannya. Saya mencoba mengingat-ingat kira-kira siapa ya..


Beliau kemudian coba merunut pendidikan dan keterampilan yang saya miliki. Saya katakan saya dulu SMK Teknik Komputer lalu kuliah sastra Inggris di UT. Saya pernah jadi guru bimbel sebentar lalu diminta tetangga menulis untuk blognya. Kemudian saya bergabung dengan agency penulisan di Bandung. Saya menulis artikel kesehatan, kecantikan, dan parenting untuk promosi produk seperti Zwitsal, Citra, dan Sariwangi.


Itu berjalan sampai saya hamil dan akhirnya memutuskan cuti ketika akan melahirkan anak pertama. Sempat lanjut menulis saat Arra umur setahun lalu vakum lagi.


Bu psikolog menyela mungkin bisa dimulai menulis lagi. Tapi tidak usah memikirkan untuk mencari uang. Mungkin bisa dengan menulis ringan di blog sendiri. Kalau nanti bosan lagi, ya cari kegiatan lain lagi. Acak saja. Tidak harus menulis terus. Mungkin bersosialisasi atau hal lain. Orang kalau sudah ketemu passionnya pasti rasanya semangat terus walau orang lain lihatnya itu hal sepele.


"Iya bu, itu yang belum saya temukan," kata saya. Lalu saya melanjutkan cerita. Masa-masa di Barabai adalah masa-masa saya terus menyemangati diri untuk jadi ibu rumah tangga yang baik saja. Sampai saya hamil lagi dan lahirlah Azzam. Dan mood yang buruk terus hilang-timbul.


Saya merasa saya banyak tidak bisanya dan jadi sering membandingkan diri dengan orang lain. Padahal saya tahu saya harusnya banyak bersyukur dan bahagia dengan kondisi yang saya miliki. Suami saya sayang. Finansial saya tidak kurang tidak berlebih. Anak-anak ya normalnya anak-anak kadang susah diatur tapi banyak juga menyenangkannya. Sayapun banyak membaca dan rutin datang ke kajian.


Tapi kenapa saya kerap merasa bosan, lalu kufur. Pikiran ingin bekerja dan punya pemasukan sendiri juga sering sekali menghantui. Saat saya putus asa dengan tingkah anak-anak atau suami misalnya. Padahal kalau ditanya mau kerja apa sebenarnya saya juga bingung. Kerja apa yang bisa membuat saya tidak semakin merasa bersalah terhadap suami dan anak-anak? Atau bisnis apa yang bisa saya lakukan tanpa banyak resiko, kekhawatiran ini itu?


Rasanya pikiran saya kusut sementara keinginan jadi macam-macam. Pikiran saya seringkali rasanya seperti jalan sendiri mengkhawatirkan banyak hal.


Sampai bagian ini, wajah Bu psikolog tampak mulai serius dan seperti khawatir dengan cerita saya. Terlebih ketika saya bilang,"Ini terburuknya.. Terburuknya lho Bu.. Saya kadang kepikiran pengin pergi.. Tapi bingung kemana. Atau pengin mati aja sekalian. Tapi yakin, siap?"


Maka benar raut Bu psikolog tampak kaget dan cemas dengan cerita saya. Saya pun agak tak mengira responnya begitu. Tapi saya teruskan saja. Saya katakan saya merasa saya ini sudah punya dasar pengetahuan dari membaca dan ikut kajian, tapi kenapa saya masih bisa kepikiran hal mengerikan begini. Saya takut dengan pikiran saya sendiri. Tolong saya dibantu, Bu.


Bu psikolog seperti lega ketika saya mengakhiri cerita saya. Beliau mengapresiasi dan memuji bahwa dengan saya datang ke psikolog bahkan atas kemauan saya sendiri itu sudah langkah yang benar. Artinya benar ada kemauan dalam diri saya untuk keluar dari masalah. Beliau mengatakan tapi ini tidak bisa dicapai dengan sekali datang saja. Mungkin 2 atau 3 pertemuan lagi. Bu psikolog juga ingin melakukan tes lain kepada saya dan bertemu dengan suami. Saya mengiyakan. Iya, saya akan mengikuti prosesnya.


Beliau bertanya bagaimana rasanya sekarang setelah cerita? Lega kan? Saya senyum saja. Karena rasanya memang sedikit beda tapi entahlah belum plong benar. Mungkin ini proses awal.


Buat yang penasaran biaya konsultasinya: 150rb per jam.


Setelah ini saya ingin cerita "keajaiban" yang mulai saya rasakan setelah konsultasi. Bismillah lagi, semoga besok moodnya terus baik.

Pengalaman Pertama Kali Konsultasi ke Psikolog; Ga Usah Takut! (Bag.1)

Bismillah.. Itulah yang saya niatkan saat kemarin akhirnya memberanikan diri konsultasi ke psikolog. Begitu juga saat memulai tulisan ini: BISMILLAH.


Tiada yang lebih baik daripada pertolongan Allah. Tapi tetap kita harus berikhtiar. Dan memberanikan diri datang ke psikolog adalah salah satu ikhtiar saya menjemput pertolongan Allah.


Jadi, kenapa saya datang ke psikolog? Karena saya merasa bingung dan bosaaann sekali dengan diri saya.


Koq bisaaa?


Iya, itu perasaan yang hilang-timbul dalam diri saya. Ketika mood lagi bagus, saya merasa hidup saya cukup baik. "Gapapa lah," saya selalu menghibur diri saya sendiri begitu.


Tapi, ketika mood lagi jelek sejelek-jeleknya, saya merasa sangat tidak berdaya. Selalu merasa serba salah. Di rumah terus bosan luar biasa. Tapi keluar atau mau ngapa-ngapain juga males. Yang ada jadinya galak dan marah-marah ke anak, judes ke suami. Sangat mudah tersulut emosi, juga mudah sekali sedih dan menangis.


Ketika sudah marah-marah dan menangis itu lalu mencullah perasaan bersalah dan bodoh sekali. "Kenapa saya begini terus?"


"Kenapa nggak ada yang mengerti saya?"


"Pengin pergi aja!"


"Mati sekalian!"


Sungguh perasaan yang sangat getir dan menakutkan.


Maka setelah berulang kali berusaha mendamaikan diri sendiri. Berulang kali menangis dan meminta maaf kepada suami dan anak-anak. Berulang kali pula terulang kembali, merasa putus asa lagi dan lagi.. Akhirnya saya memutuskan mencari psikolog. Ya, ini saatnya saya mencari bantuan. Tidak bisa lagi cuma rekonsiliasi saya dan suami.


Sore, 6 November 2019 saya mencoba me-WA seorang psikolog yang saya tahu di Barabai, Dwi Meiliyana Majidi. Beliau adalah psikolog di lembaga pendidikan Al Umm Barabai. Saat Arra sekolah di TAUD SaQu Al Umm Barabai, beliau memperkenalkan diri sebagai psikolog sekolah dan siap memberi serta menerima konsultasi kapan saja. *Kalau salah, mohon saya dikoreksi


Sebenarnya saat masih di Barabai pun sudah ada keinginan saya berkonsultasi mengenai diri saya dan Arra. Tapi rasanya masih maju mundur sampai akhirnya terlupa dan kami pindah ke Banjarbaru.


Ya, kepindahan kami ke Banjarbaru boleh diakui memang penuh drama bagi saya. Dari mencari rumah sewa yang cocok, menyesuaikan pengeluaran, masih terbayang suasana di Barabai, dsb. Jadilah lagi-lagi saya yang merasa paling tidak berdaya. Sementara Arra dan Azzam tampak sangat mudah menerima dan beradaptasi. Sayalah yang merasa terus-terusan bosan, sedih, kesepian, sampai akhirnya kewalahan.


WA saya intinya menanyakan adakah rencana Bu Meiliyana datang ke Banjarbaru dalam waktu dekat, saya ingin konsultasi. Namun, ternyata beliau sibuk dan sayapun minta info adakah kawan beliau yang juga psikolog di Banjarbaru.


Diberilah saya kontak Diah Herawati. Setelah saya WA, alhamdulillah praktek beliau ini dekat saja, di Panglima Batur Barat. Saya pun langsung janjian malam itu juga.


Apa rasanya pertama kali janjian dengan psikolog? Jujur agak takut. Takut tidak sesuai ekspektasi. Takut bayarnya mahal. Hehe..


Tapi Bu Meiliyana pun menyemangati: datang dan ceritakan saja semua.


Saya pikir, "Iya, kalau tidak memberanikan diri sekarang, mau kapan dan bagaimana lagi?"


Maka saat suami pulang menjelang maghrib, saya bilang saya sudah janjian dengan psikolog jam 7 malam ini, tolong antarkan. Suami tidak berkomentar banyak. Dia sudah tahu lama keinginan saya ini. Setelah kejadian malam sebelumnya saya mengeluh perut perih terus karena maag kambuh, lalu uring-uringan, marah-marah, dan nangis-nangis lagi, suami seperti mencoba paham mau saya.


Maka kami pun bersama anak-anak berangkat ke psikolog..


(Bersambung…)