Jumat, 02 Januari 2026

Aku Kembali

Selama hampir 7 tahun di Banjarbaru, aku sudah melihat banyak naik-turun perekonomian. Ceilah. Aku dan Ayah Arra memang suka memperhatikan toko yang baru buka, kemudian tak lama tutup. Ruko-ruko yang terus berganti-ganti penyewanya. Orang yang jualan lalu beberapa waktu kemudian sudah tidak ada lagi. Secepat itu roda kehidupan.

Kami juga memperhatikan Banjarbaru yang semakin ramai dari waktu ke waktu, semakin macet, semakin banyak orang dengan berbagai macam gaya. Ada yang bertahan, ada yang tumbang. Tanah kosong yang beberapa saat saja sudah jadi rumah atau toko besar. Rumah lama yang jadi café, eh ga lama sepi lagi. Pasar yang dipindah. Pohon besar yang ditebang, kebon yang jadi taman. Begitulah, silih berganti.

Kadang kami melihat sambil tertawa, mengomentari bahkan bertaruh. Kadang ada sedih-sedihnya juga. Seolah kami sedang dipertontonkan tidak ada yang abadi. Maka, apa yang sebenarnya dicari di dunia ini? Kalau bukan keridaan Illahi, semua fana belaka.

Eaa.. Uhuk.



Sementara itu, masuk 2026 ini timelineku kok penuh dengan video ide AI, digital content, cara dapat duit dari affiliate, bla bla bla, dsb, dkk. Padahal sudah sering reset preferences. Aku tuh ga suka ya timelineku isinya seragam semua. Haha… Apalagi tentang AI dan digital content ini. Emang 2026 semua orang wajib pinter AI, bikin conent, dan dapet duit? Kalau pengennya santai dan kerja biasa aja gimana? Haha…

Seperti yang sudah dinubuatkan, aku sih percaya bahwa itu semua bisa jadi pintu-pintu masuk fitnah yang memang semakin dipermudah. Sekarang pasar dan pekerjaan masuk ke rumah-rumah, bahkan kamar-kamar. Rumah yang seharusnya jadi tempat istirahat dan membina keluarga, sekarang jadi tempat kerja terus, jual-beli terus! Ya, ide bekerja dari rumah itu ada bagusnya sih. Tapi kalau terus-terusan pikirannya pekerjaan aja, gimana ngasilin duit aja bahkan dari rumah, aku yakin kehancuran justru semakin dekat.

Wanita-wanita, ibu-ibu disibukkan dengan HP, content, check-out, payment, dsb, dkk. Anak-anak main game, worksheet, atau apalah itu dengan pendampingan seadanya. Semua terlihat indah, terlihat anteng di content, tapi aslinya? Siapa yang tahu. Aku tetap percaya prinsip easy come easy go. Sesuatu yang dihasilkan dengan cara yang mudah, pasti mudah juga keluarnya, mudah juga habisnya.

Uang-uang yang dihasilkan dari content dan affiliate dengan mudah itu, apa lama bertahannya?

“Oh, saya bisa beli ini itu, bangun rumah, bisa umroh, bisa sedekah.”

Tapi apakah berkah? Apakah menghadirkan kenyamanan dan yang paling penting kedekatan dengan Rabb-Mu?

Aku sih takut banget sama harta yang didapat dengan mudah tapi melalaikan pelan-pelan. Meski siapa sih yang ga pengen dapat uang cepat dan banyak?

Tapi pliss pikir lagi.

Aku tetap pakai AI, tapi secukupnya. Aku tetap lihat content, tapi kupilah-pilih. Aku tetap kerja biar dapat duit, tapi ga mau terlalu capek lah aku! Haha..

Kemudian tentang ilmu. Ilmu yang didapat dengan mudah dan cara senang-senang seperti game dan ramai-ramai saja, apa akan bertahan lama di benak anak? Apa sungguh-sungguh bermanfaat ilmunya?

Easy come easy go.

Aku percaya ilmu yang baik dan bermanfaat didapatkan dengan cara tidak banyak main-mainnya. Tapi dengan ketawadhuan, penghargaan terhadap ilmu.

Maka aku memotivasi anak-anakku untuk lebih banyak membaca buku dan memahami isinya, bukan sekedar lewat permainan, pencet-pencet berhasil.

Begitu juga untuk diriku sendiri, aku memaksa diriku untuk tidak mudah tergiur dengan iming-iming dapat uang mudah cuma bikin content, cuma gabung affiliate, bla bla.

Aku tidak mengharamkan. Tapi aku yakin ada pilihan yang lebih baik dan terhormat, dan aku akan pilih itu.

Aku memaksa diriku fokus dan menikmati mengajar, menulis sesekali, dan meluangkan banyak waktu untuk keluarga.

Aku memaksa diriku membeli hanya barang yang benar-benar dibutuhkan dan tertib menabung. Semoga yang sedikit-sedikit ini justru yang berkah dan menghujaniku dengan ketenangan, melilitku dengan kebahagiaan, mengejarku dengan kedamaian ugal-galan. Nah lho!

Sebab, mau dibahas seperti apa, dunia content gemerlap itu pasti ada stresnya. Ih, aku yang ga ngontent aja gampang capek, gampang stres. Ga mau lah, aku semakin semakin. Haha..

Bahkan yang katanya slow living tapi dicontent-in itu. Yakin slow? Yakin bahagia?

Kelak, aku juga pengen benar-benar slow living. Hidup di pinggiran kota, punya rumah berhalaman luas, nanam cabe tomat, pelihara ayam-kambing. Tapi kalau itu terwujud, insyallah nanti ga masuk kamera manapun, karena aku pengen yang benar-benar pensiun gitu. Haha…

Sekarang ya okelah kita kerja keras dulu. Kita bangun dignity. Tahu dignity? Tapi tetap, tidak asal serok. Karena dignity alias harga diri yang langgeng itu ya didapat dari sikap hati-hati. Kita pengen tua yang sehat, tidak sakit-sakit karena harta yang tidak berkah. Tidak patah hati karena pasangan yang tidak amanah, anak-anak yang mbuhlah. Haha..

Apakah aku pernah tergoda melihat pencapaian orang lain? Oh, TENTU SAJA IYA. Melihat temanku kuliah di univ ternama, ada yang keluar negeri, ada yang kerja di ibukota, dulu aku pengeen. Tapi lama-kelamaan kelakuan mereka yang membongkar sakitnya sendiri. Hutang, hubugan dengan ortu, tanpa anak, tanpa pasangan pasti. Ah, sudahlah.

Aku harus yakin bahwa jalanku yang kupilih dengan hati-hati dan kadang ada tidak sengaja juga adalah yang terbaik. Pasti terbaik karena aku percaya Allah dengan sebaik-baiknya cara yang kuketahui. Insyaallah terbaik karena hal-hal sembarangan sudah coba kueliminasi. Sekarang saatnya menikmati sambil mempersiapkan nanti. Masalah orang mau jungkir balik asal kita ga dicelakai, biarin aja. Haha..

Selamat datang kembali di blog ini. Yang dulunya dikonsep rapi, sekarang mungkin akan lebih apa adanya. Sebab aku memang butuh tempat menuangkan segala rasa. Eaa.. Tetap elegan insyallah dengan versiku. Haha.. So, here we go!

Kamis, 02 April 2020

Merawat Kesehatan Mental Selama Musim Corona

Bismillah..


Sejak merebaknya kasus virus corona, tagar #dirumahaja begitu gencar digalakkan. Lalu, apa kabarnya saya yang hari ini sudah memasuki day 11 sejak si bocah TK libur dan kami lebih banyak #dirumahaja?


Kabarnya adalah: bosan. Entah mulai kapan bosannya. Dasar saya kan bosanan. Makanya semalam jadi pengin nulis ini. Semacam trial n error merawat kewarasan di tengah rasa bosan #dirumahaja selama anak libur, kegiatan juga banyak yang libur.


Saya sempat WA-an dengan 2 orang working mom. Dan kabar mereka adalah: sangat menikmati masa-masa membersamai anak selama libur ini sambil WFH (Work From Home). 


Merasa terintimidasi? Masa gue malah bosen sih? Iyalah awalnya merasa begitu. Tapi kemudian saya sadar bahwa: kita beda setelan gaess.. Persamaannya sih kita tetap sama-sama berdoa semoga si Covid-19 cepat hilang dari muka bumi.


Kembali ke saya yang bosan dan bosanan terlebih mood yang gampang sekali naik-turun. Rasanya sudah sejak 2 minggu lalu bahkan sebelum Arra libur, mood saya banyak berantakannya. Apalagi dekat-dekat PMS. Udahlah rasanya gampang bete, gampang capek. Pengin ngeluh tapi maluu..


Iya, saya ga kekurangan berita tentang yang nasibnya lebih buruk dari saya sehingga saya sangat tidak pantas mengeluh. Saya cuma perlu memperbanyak syukur. Tapi kalau sesekali ngerasa bosan dan sebel sama macam-macam hal boleh ga?


Ya udahlah kalau ga boleh. Saya tetap mau cerita sih. Haha..


Hampir 3 minggu sudah kajian di masjid Syarifah Shalihah diliburkan. Diganti kajian online sih. Tapi tetap rasanya beda. Saya kehilangan moment "recharge" semangat. Duduk di kajian dan ketemu ummahat-ummahat sholihah itu rasanya nikmat gaess.


Apalagi setelahnya bisa jajan-jajan. Ini juga nikmat. Meski bukan tujuan utama. Hehe.. Dan saya kehilangan itu semua, termasuk rutinitas jemput Arra di sekolah yang juga bisa jadi hiburan keluar rumah sebentar.


Meski kadang saya masih keluar untuk belanja, ternyata saya kehilangan "moment eksistensi" yang selama ini saya nikmati. Makanya saya merasa bosan.


Lalu bagaimana manajemen emosinya? Ya lumayan tarik-ulur. Seperti biasa saya masih terus mencoba mengkomunikasikan apapun yang saya rasakan dengan suami. Tapi masalahnya ya masih sama: kalau kita pas sama-sama lagi capek terus ga nyambung itu komunikasinya. Terus tegangan arus pendek deh. Konslet. Wkwkwk..


Begitu juga dengan anak-anak, saya pakai jurus tarik-ulur. Kadang saya biarin deh mereka berantakin segala macem sementara saya rebahan. Abis itu jadi kayak komandan nyuruh anak buahnya beres-beres donk. Abis itu kasih mereka reward makanan atau mainan. Jangan dicari di teori parenting manapun. Ini cuma strategi bertahan di bawah tekanan pengin ngomel dan mendelik-delik. Huhuu..


Bisa dibilang #dirumahaja bagi yang punya mood naik-turun seperti saya tidaklah mudah. Pun ketika sudah bertahun-tahun melakukannya. Baru dikasih judul #dirumahaja demi menyelamatkan dunia dari virus corona saja rasanya sudah seperti babak belur melawan musuh raksasa. Musuh itu adalah emosi sendiri yang kadang pengin meledak tak tahu waktu.


Daaan.. akhirnya saya memberanikan diri berbagi tips merawat kesehatan mental selama musim #dirumahaja ini. Khususnya bagi yang moodnya naik-turun seperti saya. Kalau yang moodnya always sehat sih silakan cari tulisan yang lebih profesional ya. Hehe..


  1. Tips pertama dan utama, jaga kedekatan dengan Allah. Berasa banget lalai sedikiit aja, hancur ini mood. Ya paham kan karena Allah yang pegang hati kita. Selaluu diingetin sama Pak Kasad untuk sering-sering istighfar, rajin dzikir. Tapi dasar aku suka lupa. Hiks.

  2. Turunkan standar. Ini tips yang udah populer dimana-mana. Tapi emang berasa betul. Ya sudahlah kalau semasa #dirumahaja kamu belum bisa berprestasi bikin cake atau masakan cantik atau crafting unik kayak yang ibu-ibu lain posting. Anak-anak diceplokin telor aja girang kalau lapar. Wkwkwk.. Jadi biarin deh mereka main sampai capek dulu. Yang penting setelahnya tugas sekolah online tetap kekumpul. Hehe..

  3. Jaga kenyamanan badan. Dari badan turun ke hati. Eciyee.. Ya maksudnya kalau badan enak, ga laper dan ga kenyang-kenyang amat, ga risih karena keringetan, ga ngantuk, maka insyaAllah emosi-emosi negatif lebih jarang mampir. Saya sih usahakan ga nahan lapar dan banyaki minum air putih. Juga sering mandi. Entah itu tengah hari atau sebelum tidur, mandi bisa membantu merilekskan tubuh dan pikiran buat saya.

  4. Ngobrol pagi dan malam dengan suami. Bagi saya, pagi dan malam itu masa-masa kritis membangun mood. Kalau pagi bisa ngobrol santai rasanya dapat cukup suntikan semangat, setidaknya sampai sore. Nanti malamnya tinggal berharap banget bisa ngobrol menuangkan uneg-uneg tentang polah bocah dan segala macam dari siang sampai sore tadi. Mohon pengertiannya ya pak suami. Sembari saya juga berusaha mengerti lelahmu. Huhuu..

  5. Seks yang sehat. Udahlah ya ga usah malu-malu ngomongin ini. Ga usah juga itu buat becandaan #dirumahaja terus negatif corona tapi positif hamil. Karena seks itu memang bermanfaat untuk mengeluarkan hormon oksitosin dan endorfin yang bisa meredakan stress dan membuat rileks sehingga bisa tidur lelap. Jadi semoga suami istri paham aja selama masa #dirumahaja yang rentan stress ini, mereka bisa mengusahakan moment untuk seks yang berkualitas. Aiih, gayanya kayak ahlinya ahli aja. Wkwkwk..

  6. Batasi arus informasi. Berbagai berita dan info-info tentang corona yang begitu masif belakangan ini bisa lho mengganggu kesehatan mental kita. Kita yang dasarnya sehat bisa jadi takut dan khawatir berlebihan yang akhirnya mempengaruhi mood. Makanya saya berusaha baca dan lihat berita yang valid aja. Syukur dapatnya info yang positif-positif aja, tentang mengingatkan untuk tetap tenang dan panduan beribadah selama musim corona ini misalnya. Kan bagus.


Ya wis ya, segitu aja tipsnya. Doakan saya tetap sehat lahir batin. Dan mari sama-sama doakan pandemi ini cepat berakhir. Kita bisa puasa ramadhan dan merayakan idul fitri tanpa khawatir. Aamiin.


*Nurul Ummu Arra

*Bjb, 2 April 2020

Selasa, 19 November 2019

Pengalaman Cabut Gigi Geraham Bungsu

Sabtu 16/11/19 saya dijadwalkan cabut gigi. Ciyee "dijadwalkan" macam artis.. Haha..


Sebenarnya saya sendiri yang pilih hari. Setelah ke klinik drg.Nurul Hasna, saya lalu dirujuk ke Poli Gigi RS Idaman Banjarbaru hari Sabtu itu.


Oleh drg.Nurul Hasna saya diajari cara daftar antrian di RS Idaman lewat WA. Jd bisa hemat waktu tidak perlu antri pendaftaran RS.


Pagi itu kami berangkat setengah 8 dari rumah. Kami sarapan bubur ayam Bandung dulu di Ahmad Yani.


Lalu kami langsung ke RS. Benar saja, disana pendaftaran sudah ramai. Untungnya kami sudah terdaftar dan langsung ke poli saja.


Di poli saya meletakkan kertas rujukan di meja di depan ruangan tindakan poli gigi. Setelah setengah jam Azzam dan Arra mulai bosan. Jadilah mereka diajak jalan-jalan ayahnya. Sementara saya tetap menunggu dipanggil.


Tak lama saya pun benar di panggil. Pertama di-check tensinya lalu langsung disuruh masuk ke ruangan.


Asli di ruangan agak kagok ya. Akhirnya duduk di pojokan. Lalu dipersilakan naik ke dental chair alias kursi tindakan dokter gigi itu lho.. Datanglah seorang yang saya kira perawat atau asisten dokter. Dia menanyai saya kenapa.


"Ini gigi geraham bungsu udah rusak, mau dicabut aja. Kemarin waktu saya masih di Barabai udah pernah dirujuk ke RS Tanjung tapi saya belum berangkat. Sekarang sudah pindah ke Banjarbaru jadi kemarin itu periksa ke drg.Nurul Hasna terus dilihat terus dibilang posisinya emang ga bagus jadi suruh dicabut aja." Cerita saya lengkap.


"Sakit ga? Saya kasih obat dulu ya biar ga sakit. Nanti kesini lagi 3 hari lagi." Katanya.


Lha? Gimana tho? Saya misuh dalam hati.


"Udah ga pernah sakit koq. Sekarang aja lah daripada saya bolak-balik." Tawar saya. Haha..


"OK bener, kita coba ya." Tantangnya.


Lha masa coba-coba? Huhu..


Lalu mbak perawat atau asisten atau dokter ini menyiapkan bius lokal. Gusi dan langit-langit mulut saya disuntik, gaess..


Rasanya seperti ketusuk duri ikan tapi daleemm.. Sakitt sampai saya meremas ujung lengan baju.


Setelah itu si mbak meninggalkan saya. Rasanya saya jadi beliur terus. Saya kumur dan buang beberapa kali.


Lalu langit-langit mulut dan pipi rasanya mulai kebas. Saya clingak-clinguk nyari si mbak. Ada pasien lain di sebelah saya. Dia dan kawannya sempat ngurusi pasien itu dulu.


Lalu datang seorang ibu. "Tunggu ya Mbak," katanya pada saya. Saya senyum ragu.


Si mbak tadi tampak membongkar lemari peralatan mencari sesuatu.


"Koq ga ada ini? Aku mau bla bla bla..," terdengar dia agak panik. Lalu si ibu mengajaknya keluar mencari alat yang dimaksud.


Aku menunggu lagi.


Beberapa menit kemudian mereka datang lagi. Membawa meja berisi peralatan.


"Kita mau operasi kecil ya," Kata si mbak pada saya.


Iya mba, tau.. Huhu.. Udah jangan nakutin sih. Melas saya dalam hati.


Si mbak lalu mengambil alat seperti palu dan tang kecil. Ya Allah, it's the time.. Saya yang takut refleks buka mulut.


Sementara si ibu ambil posisi di belakang saya memegangi kepala saya.


Dan krek krek.. Si mbak mencongkel si geraham bungsu dua kali lalu menariknya. Rasanya pastilah sakittt. Bayangkan saja bagian tubuh kita ditarik paksa, gaess.. Tapi tetap saya menghibur diri sakitnya tidak seberapa dibanding kontraksi lahiran.


Si mbak mengeluarkan gigi itu.."Sakit ya? Nah dibilangin sih ga percaya." Eh masih nyolot juga nih si Mbak. Tapi gapapa, lega sudah perjuangan..


"Gapapa sakit dikit ya," si ibu di belakang saya malah menghibur. Ia seperti kaget gigi saya sudah berhasil dicabut secepat itu. Lha saya juga kaget, Bu.


Saya melirik gigi itu tergeletak di meja peralatan. Berdarah-darah. Mahkota giginya memang tampak rusak dan kecil sementara akarnya yang besar. Seram lah. Saya yang awalnya punya niatan pengin bawa pulang si gigi buat ditunjukkan ke Pak Kasad malah geli sendiri. Ya lagian buat apa.. Haha.. Sudahlah, good bye my geraham bungsu my wise teeth. Semoga kau tenang dan aku senang. Hehe..


Saya turun dari dental chair itu rasanya kayak masih gemetar ya.. Kayak gak percaya "Ini bener udahan?" Haha..


O ya, saya diberi kasa bulat untuk digigit agar darah dari gusi tidak terus keluar. Saya lalu duduk di samping meja si mbak tadi. Dia menulis resep sembari berkata cepat. "Jangan dipegang-pegang. Jangan dimainkan dengan lidah. Setelah setengah jam kasanya boleh dibuang." Yassalam, masih aja nih si mbak. Saya kan masih gugup dan bingung, mbak.


"Ini udah? Ga dikasih obat?" Tanya saya polos.


"Iya itu obatnya." Dia menunjuk kertas yang tadi dia beri. O iya.. Hehe..


Saya lalu keluar setelah bilang terima kasih.


Saya berjalan mencari apotek RS. Beneran rasanya kayak masih linglung ya.. Ini beneran udah? Aduh, ayah sama anak-anak mana? Apotiknya mana? Aduh sakit. Haha..


Setelah apotik ketemu, saya memberikan resepnya lalu menunggu sebentar dan diberikanlah obatnya. Antibiotik dan penghilang nyeri.


Saya lalu menelpon suami dan ternyata mereka sudah keluar karena Azzam BAB terus nyari pamp*rs donk ke Alfam*rt.. Haha.. Owalah..


Singkatnya setelah masuk mobil saya ditatap aneh oleh Arra. Diketawain Pak Kasad. Dan dicueki Azzam. Haha.. Ga tau ya Bundanya nih habis berjuang sendiri di ruang operasi.


Halah.. Lebay sih. Wwkwkwk..


Intinya alhamdulillah akhirnya tecabut juga si geraham bungsu yang sudah berlubang dan rusak itu. Penantian maju mundur untuk mencabutnya akhirnya tuntas sudah.


Siang itu, saya coba makan dan minum pelan-pelan. Buang liur juga pelan-pelan. Tidur pun pelan-pelan. Tapi ternyata bangun tidur siang, mulut berdarah-darah lagi. Mungkin karena posisi kepala rendah ya, jadi darah dari gusi keluar lagi. Saya lalu berkumur pelan sekali. Saya bersihkan dengan tisu lalu saya browsing donk gimana ini. Saya coba dinginkan kantong bekas teh celup lalu saya gigit di antara gusi tadi. Alhamdulillah setelah beberapa menit, darahnya berhenti dan gusi rasanya lebih rileks.


Keesokan harinya saya sudah berani sikat gigi dan kumur pakai air garam. Hari ini setelah 3 hari, rasanya sudah semakin nyaman. Gusi bekas gigi yang dicabut sudah makin membaik. Sudah tidak terasa sakit atau ngganjel lagi. Alhamdulillah.


Yang mau cabut geraham bungsu juga, jangan takut ya. Semoga Allah mudahkan.

Ke Psikologi Lagi

Jumat 15/11/19, saya akhirnya ke psikolog lagi. Kali ini suami yang agak maksa. Setelah saya undur-undur, jadilah malah suami yang ngajak.


Kami datang jam 8 malam. Langsung naik ke lantai atas bertemu Bu Diah. Melihat saya datang dengan suami dan anak-anak, beliau mengatur kursi untuk kami.


Beliau lalu membuka konsultasi dengan bertanya "Bagaimana kabarnya, Mbak?" Saya jawab "Ya begini lah Bu, masih naik turun." Sambil tertawa ragu.


Saat Bu Psikolog mulai menyapa suami, anak-anak pun mulai eksploratif. Azzam merengek-rengek. Saya inisiatif, "Yuk kita keluar, boleh nonton dulu." Jadilah Arra dan Azzam duduk di depan ruangan sambil nonton Youtube. OK lah, Bu psikolog pasti paham kondisinya.


Bu Diah kembali menegaskan bahwa saya mengalami gangguan mood. Pak Kasad alias suami tekun mendengarkan.


Sampailah ia bertanya,"Jadi bagaimana bantuan yang bisa saya berikan?" Lalu ia bercerita apa-apa saja yang telah ia lakukan selama ini.


Rasanya saya seperti sedang digosipi tapi saya ada juga di tempat itu. Pak Kasad bercerita bagaimana saya kalau sedang marah, bagaimana ia mencoba meredakan tapi saya tetap marah, dst dll dkk..


Saya agak mati kutu ya..


Tapi Bu Psikolog kembali mengulang bahwa saya butuh aktualisasi dan penghargaan. Karena beliau bilang saya punya potensi yang kurang tersalurkan. Dan kondisi yang monoton itu semakin memperburuk mood saya yang gampang berubah. Maka saya perlu mencari kegiatan. Apa saja yang bisa membuat bahagia. Karena yang penting bahagia dulu. Nanti lama-lama passionnya pasti ketemu.


Saya bercerita tentang saya yang main ke rumah Mba Mirza, jalan pagi dengan suami, dan mulai menulis lagi. Saya juga menceritakan saya yang kadang masih kelepasan marah sampai Pak Kasad bingung. Sayapun bingung. Begitu lagi.


Lalu Bu psikolog memuji yang sebenarnya Pak Kasad lakukan selama ini. Dan meminta saya untuk berhenti bermain playing victim, berhenti menyalahkan keadaan dan orang lain atas semua yang terjadi. Banyak bersyukur saja untuk semua yang telah terjadi. Dari cerita saya Bu psikolog tahu masa lalu saya. Ia bilang "Ayo donk ganti jadi mental winner."


Saya berusaha mencernanya. Sesuatu yang saya pahami tapi kadang sulit untuk melakukannya.


Penutupnya, Bu Diah mengatakan bahwa beliau sudah paham kepribadian saya. Tapi  yang bisa merubah sifat hanya saya sendiri. Setelah menyemangati kami, saya dan suami, beliau bilang boleh datang 2 minggu lagi. Tapi kalau tidak datang lagi ya tidak apa-apa karena itulah yang beliau harapkan. Beliau percaya suami telah memberikan pendampingan yang terbaik.


Kami lalu keluar dan pulang. Setelah membayar biaya konsultasi lagi tentunya.


Lalu apakah saya puas atau justru menyesal datang ke psikolog karena ternyata hanya begitu saja?


Tidak. Bagaimanapun saya merasa terbantu. Seperti niat di awal bahwa ini adalah salah satu ikhtiar saya memperbaiki diri. Ketika kemarin itu rasanya sudah bingung sekali dan putus asa dengan diri sendiri maka mencari bantuan ke psikolog adalah hal yang benar. Meski akhirnya tetap perubahan dan perbaikan itu dikembalikan ke diri sendiri.


Maka terima kasih Bu Diah. Terima kasih Pak Suami. Terima kasih anak-anak. Atas semua. Semoga saya bisa menjadi lebih baik setelah ini dan seterusnya. Itu saja. Allahuma aamiin.

Selasa, 12 November 2019

Pagi-Pagi Jalan Pagi (Bag.2)

Sabtu 9/11/19, suami mengajak jalan pagi lagi. Ia bilang malasku harus dilawan.


Aku menatap anak-anak yang masih terlelap. Kami keluar rumah setengah 7 pagi.


Rutenya adalah keluar komplek, ke tempat penjual wadai yang ternyata baru siap-siap, lalu masuk komplek lagi memutar. Kami melihat berbagai macam rumah dan mengomentarinya. Terselip doa dan harapan  bahwa saatnya nanti kami punya rumah sendiri, inginnya yang sungguh baik desain dan lokasinya. Sehingga tidak seperti nasib rumah-rumah yang terlalu rapat atau bahkan kurang terawat.


Dan ternyata begini juga rumah tangga. Perlu desain dan perawatan. Sementara kami belum bisa merawatnya dengan "treatment-treatment" mahal atau liburan ke luar negeri atau bahkan impian kami berkunjung ke Tanah Suci, maka semoga ikhtiar sederhana kami ini bernilai di mata Allah.


Ya, kami mungkin terkadang terlalu terfokus menjadi ayah dan bunda yang baik untuk anak-anak atau bagaimana mencapai target sekian-sekian dalam pekerjaan. Tapi kami lupa menjadi pasangan, sepasang suami istri yang harusnya tetap jatuh cinta ke orang yang sama berulang kali.


Maka saat lari pagi itu aku mencoba menatap suami sebagai laki-laki, pasanganku. Tidak menerus sebagai ayah dari anak-anakku. Aku menatap punggungnya lalu wajahnya malu-malu. Wajah dan punggung yang sama selama 6 tahun pernikahan kami, tapi telah banyak memberi cerita berbeda.


Sesekali aku menggandeng tangannya di jalan yang kurasa tak dilihat orang. Masih malu-malu senang. Sementara biasanya tangan itu sibuk macam-macam, aku ingin memilikinya sebentar tanpa gangguan.


Setelah memutar komplek kami kembali ke tempat penjual wadai. Membeli beberapa wadai yang mungkin disukai anak-anak. Suami mencomot satu dan langsung memakannya. Memberi kode kepadaku untuk dibayar. Dasar.


Kami lalu pulang. Ada rasa khawatir anak-anak bangun dan mencari kami. Ada rasa belum ingin pulang dulu. Rasanya seperti anak muda yang curi-curi waktu pacaran. Ehem.


Dan ternyata sampai rumah anak-anak belum bangun. Lega. Tapi parenting must go on. Kami bangunkan anak-anak. Kami teriaki "Ayo kita ke kolam renang!" Mereka mengucek-ucek mata. Hari itu kami ingin melanjutkan kebahagiaan.


Esoknya kami jalan pagi lagi. Pas hari Ahad kan, jadi harus donk. Tapi saat kami akan berangkat, anak-anak menunjukkan tanda-tanda mau bangun. Jadi daripada tidak tenang, kami ajak sekalian. "Ayo kita jalan-jalan pagi!" Komando ayahnya.


Kami menyusuri komplek dengan rute yang berbeda. Bertemu dengan beberapa bapak dan ibu yang juga lari pagi.


Azzam beberapa kali berhenti di pinggir jalan. Mengamati rumput, tanaman, bunga. Kadang mencabutnya. Mengejar ayam, kucing. Menunjuk macam-macam. Memungut entah apa saja.


Arra banyak bercerita dan berkomentar. Aku merasa sedang punya energi menanggapinya. Ia tampak senang dan tertawa. Merasa bebas dan diperhatikan mungkin. Ah, aku suka moment ini.


Suami kalau ada anak-anak maka akan berubah menjadi ayah. Ia yang banyak menjagai Azzam, menggendongnya, pura-pura ngumpet darinya. Bagaimanapun aku menyukainya. Dia dan karakternya. Dia dan anak-anak. Ya, seharusnya aku selalu menyukai dan mencintainya.


Maka esok paginya kuajak suami jalan pagi lagi. Meski hari itu kami sudah niat puasa sunnah dan you know lah hari Senin. Tapi aku ingin. Dan suami ayo aja.


Rute kami masih sekitar komplek. Kami mencoba aplikasi tracking yang baru diunduh, Relive namanya. Kami selfie, masih asyik mengomentari bermacam rumah, dan bahkan kami lomba lari di jalan yang sepi.


Saat lomba lari itu aku teringat cerita tentang Rasulullah yang mengajak Aisyah lomba lari demi menyenangkannya. Sungguh yang diteladankan oleh Rasulullah pastilah indah.


Ada bahagia yang membuncah. Ada gemas disela nafas yang memburu. Ada lucu dan haru. Mungkin itu akibat dorongan hormon adrenalin dan endorfin. Aku mulai ketagihan.


Besok lari lagi? Semoga tetap semangat. Tetap berjalan menuju perbaikan.


Bismillah walhamdulillah.

Minggu, 10 November 2019

Aku Jebol

Mood baik setelah jalan pagi hari Jumat itu masih bertahan sampai siang. Tapi setelah tidur siang, kepala agak sakit.


Anak-anak kubiarkan bermain di luar sementara aku membereskan beberapa pekerjaan. Setelah beberapa hari sebelumnya rasa tak ada semangat, sore ini rasanya sudah tak nyaman melihat banyak benda berserak.


Sempat kutelepon suami menanyakan mau pulang jam berapa. Katanya sebentar lagi, jam 5an. Kukatakan juga kepalaku agak sakit.


Menjelang maghrib, kupanggil Arra dan Azzam untuk mandi. Setelah beres memandikan keduanya, aku pun ingin mandi. Badan lengket, kepala semakin sakit, dan baju juga agak basah. Tapi Azzam malah naik ke meja makan. Sepertinya ia lapar setelah mandi. Maka kuambilkan nasi dan sop ayam. Kuajak duduk di karpet. Tampak benar Azzam lapar.


Dia kusuapi lahap. Bahkan kemudian menyendok nasi sendiri dari mangkok. Seketika aku jadi senang. Perasaan ingin mandi kutahan dulu. Setelah nasi dan sop di mangkok habis, kutanyai apa Azzam masih mau lagi. Ia mengisyaratkan iya. Maka kuambilkan nasi dan sop lagi. Kusuapi lagi, tapi kali ini sudah mulai pelan makannya sampai akhirnya menolak.


Arra datang duduk di samping Azzam. Kutawari apa mau makan. Ia buka mulut kusuapi. Namun di suapan kedua ia menolak. "Gak mau," katanya.


Aku yang memang sebenarnya sudah merasa tidak nyaman jadi tersulut mendapat penolakan. "Ayo Ra, makan! Lihati makanannya. Bunda mau mandi," perintahku kesal.


Aku bangkit. Tapi sekejap saja kutengok nasi itu sudah ada yang tumpah. Aku tiba-tiba makin tersulut. Arra susah disuruh makan. Tidak menjaga makanannya. Bahkan dilihati juga tidak, sampai akhirnya tumpah.


Rahangku tetiba mengeras. Menahan omelan tapi akhirnya keluar juga. Arra menatapku sedih dan sebal mungkin. Terpaksa dihabiskannya nasi itu. Tapi aku sudah tersulut. Ditambah melihat jam yang semakin mendekati maghrib tapi suami belum juga pulang.


Kutelepon suami. Dua kali baru diangkat. Langsung kucecar kenapa ga pulang-pulang. Masih tanggung katanya, programnya masih loading. Semakin meletup rasanya.


"Kenapa? Kenapa tadi bilang bentar lagi. Aku jebol lagi ini. Anak-anak kumarahi lagi. Sekarang gak tau lagi rasanya. Perutku kaku lagi. Aku gimana ini?" Ceracauku tak karuan.


"Iya, sebentar lagi," pak suami mencoba tenang.


"Kan mas udah paham kondisiku. Masa masih ga ngerti? Ga bisa tolongin aku dulu? Aku jebol lagi ini, udah ditahan-tahan. Sekarang perih lagi perutku. Gimanaa?" Aku makin menceracau, hampir menangis.


Rasa pengin mandi jadi hilang. Kurasakan perut benar-benar tiba-tiba kaku lalu periih sekali. Asam lambung, buih lambung, atau apalah itu bereaksi tanpa bisa kukontrol. Dadaku juga jadi sesak dan sakit. Inikah gejala Psikomatis itu perlahan tapi pasti menguasai tubuhku?


Benar-benar dapat kurasakan dan aku bingung dan kacau lagi rasanya. Kenapa suami rasanya masih tak mengerti aku? Kenapa anak-anak tak kasihan dengan bundanya? Aku jadi benci. Bisikan sedih dan ingin pergi datang lagi.


Namun tak lama suami benar-benar pulang. Ia tak langsung menemuiku yang duduk kesal di ruang tamu. Pulangnya disambut laporan Arra kalau Azzam BAB, jadilah lelaki yang kutahu lelah dari kantor itu langsung menyeboki Azzam. Setelah selesai dan menenangkan anak-anak sebentar, datanglah ia padaku. Kuberikan tatapan marah dan sebal. Masih dengan kepala dipenuhi pikiran "Kenapa kenapa?"


"Gimana ini Mas? Aku jebol lagi. Mas ga ngerti aku. Perutku perih," masih dengan ceracauku seperti di telepon. Dia menatapku bingung, prihatin, sedih juga dan entah apa lagi.


Aku masih terus protes.. Berkali bilang "Aku bingung mas. Mas ga ngerti aku." Karena rasanya masih itu terus yang menyesaki kepalaku. Sampai akhirnya aku benar-benar menangis meraung sesenggukan.


Aku merasa gagal, jebol lagi. Mood yang kujaga baik dari pagi sampai siang rusak saat genting menjelang maghrib. Saat idealnya dalam bayanganku anak-anak sudah mandi, makan dan suami segera pulang. Tapi semua gagal lagi. Ingatan kekesalan yang serupa dari sebelum-belumnya juga seperti terpaksa ditarik lagi. "Aku koq kayak gini terus. Aku koq marah-marah terus. Mas koq ga ngertii aku terus!"


Sakit dan bingung rasanya. Suami terus menenangkan tapi rasanya aku seperti masih sulit menerima nasihat baik saat marah begini. Sampai akhirnya aku merasa mulai lelah sendiri. Aku tergugu melihat wajahnya yang juga bingung dan lelah. Sudahlah ayo maghrib dulu.


Sungguh tak ada yang sempurna dari mood ini jika aku hanya membangunnya sendiri. Kenapa tak kuletakkan saja sebentar, kukembalikan pada pemilikNya saat aku merasa sudah tak berdaya, hampir putus asa lagi.


"Ya Allah, Engkau yang paling tahu isi hatiku, isi pikiranku karena Engkaulah pemiliknya. Engkau yang paling tahu apa yang kuinginkan, apa yang kubutuhkan. Maka tunjukkanlah apa yang terbaik untukku ya Rabb. Lapangkanlah dadaku, jerninkanlah pikiranku. Sembuhkanlah aku." Doaku lirih setelah sholat.


Setelah sholat itu juga suami menatapku. Ia meminta maaf dan bicara lagi. Tapi kubilang sudahlah. Rasanya belum sepenuhnya nyaman ini perasaanku. Nanti adanya malah penolakan terus. Ia bilang maaf itu bisa mempercepat penyembuhan, ibarat katalisator. Kubilang iya, tapi ini mesinnya masih rusak, jadi biar bener dulu, baru nanti dikasih katalisator. Ga bisa kalau masih rusak begini.


Suami lalu mafhum. Entahlah ini benar penolakanku atau apa. Yang pasti aku ingin sembuh dan berubah. Tolong aku dibantu, suamiku. Partnerku, separuh aku.

Pagi-Pagi Jalan Pagi (Bag.1)

Jumat pagi 8/11/19. "Cepet, Yah!" kata saya kepada suami yang sudah beberapa menit di kamar mandi. Kami mau jalan pagi hari ini sekalian mengantar Arra ke sekolah yang jaraknya 600 meteran saja dari rumah. Seperti yang kami sepakati semalam.


Kami keluar rumah sudah setengah 8. Sudah terang dan lumayan panas. Mau menyalahkan suami yang tadi kelamaan di kamar mandi, tapi tahan deh. Takut mood siapa aja bisa rusak.


Azzam seperti biasa semangat. Menggendong tas kecil bertuliskan nama kakaknya. Lucu.


Dan saya menenteng plastik berisi seikat pete. Buat apa? Buat Mba Mirza. Ini juga kesepakatan saya dan suami semalam. Pengin ngasih stock pete di kulkas buat Mba Mirza yang salfok sama foto peteku. Hehe..


Di jalan menuju sekolah, sembari menjagai Azzam yang berjalan kesana kemari, saya ngobrol dengan suami. Entah kenapa rasanya agak beda. Ngobrol dengan suasana yang tidak biasanya. Ada rasa senang dan hangat. Hangatnya matahari juga nyaman mengenai tubuh, jadi berkeringat.


Sungguh kalau bukan karena pikiran yang sedang rileks, mengantar anak sekolah jalan kaki, matahari mulai panas dan bikin berkeringat serta jalan yang cukup ramai bisa banget bikin BeTe. Tapi ternyata semua bisa di-setting. Bagaimana kita bisa berkompromi dengan pasangan, anak-anak, lalu keadaan. Akhirnya terciptalah mood yang baik. Aku mencatatnya dalam hati moment dan pelajaran ini.


Sampai di depan rumah Mba Mirza, Ayah, Arra, dan Azzam saya suruh lanjut langsung ke sekolah aja dulu. "Ke kantin beli bekal dulu ya buat Arra," pesan saya.


Saya lalu memencet bel rumah Mba Mirza. Karena pintu tidak ditutup rapat terdengar Mba Mirza sepertinya sedang teleponan. Suaranya yang khas itu lho.. Saya menunggu.


"Assalamu 'alaikum.." Salam saya agak nyaring berharap Mba Mirza mendengar dan keluar ke depan. Tapi sepertinya masih asyik teleponan. Setelah beberapa saat akhirnya selesai juga teleponnya dan Mba Mirza menyahut.


"Nurul Ummu Arra kah? Masuk sini masuk!" katanya.


Saya masuk. Mba Mirza tampak agak kaget melihat saya. "Lho Azzam mana?" tanyanya.


"Sama ayahnya sama kakaknya jalan duluan ke sekolah," jawab saya. Mba Mirza masih tampak bingung.


"Iya kami jalan kaki. Suamiku tuh seneng banget kuceritai yang kemarin itu. Yang kata pian obatnya jalan kaki aja itu. Ya udah kuajaki jalan kaki bareng sekalian. Masa' nyuruh-nyuruh tok," jelasku sambil tertawa.


Mba Mirza lalu tersenyum lebar. "Nah iya kan, berasa bahagia kan jalan kaki." Aku ketawa lagi. "Iya mba. Hehe.."


"Ini Mba petenya," kuberikan plastik yang kubawa.


Mba Mirza bikin ekspresi lucu-lucu takjub. "Ah, pete. Jazakillahu khairan."


Aku lalu pamit bilang mau menyusul ke sekolah. Mba Mirza bilang terima kasih lagi.


"Jazakillahu khairan ya Nurul."


"Wajazakillahu khairan." Kujawab sambil keluar dari rumahnya.


Akulah yang harus banyak-banyak ber-jazakillahu khairan kepada Mba Mirza ini.


Jazakillahu khairan wa barakallahu fiik, Mba.