Selama hampir 7 tahun di Banjarbaru, aku sudah melihat banyak naik-turun perekonomian. Ceilah. Aku dan Ayah Arra memang suka memperhatikan toko yang baru buka, kemudian tak lama tutup. Ruko-ruko yang terus berganti-ganti penyewanya. Orang yang jualan lalu beberapa waktu kemudian sudah tidak ada lagi. Secepat itu roda kehidupan.
Kami juga memperhatikan Banjarbaru yang semakin
ramai dari waktu ke waktu, semakin macet, semakin banyak orang dengan berbagai
macam gaya. Ada yang bertahan, ada yang tumbang. Tanah kosong yang beberapa saat
saja sudah jadi rumah atau toko besar. Rumah lama yang jadi café, eh ga lama sepi
lagi. Pasar yang dipindah. Pohon besar yang ditebang, kebon yang jadi taman. Begitulah,
silih berganti.
Kadang kami melihat sambil tertawa,
mengomentari bahkan bertaruh. Kadang ada sedih-sedihnya juga. Seolah kami
sedang dipertontonkan tidak ada yang abadi. Maka, apa yang sebenarnya dicari di
dunia ini? Kalau bukan keridaan Illahi, semua fana belaka.
Eaa.. Uhuk.
Sementara itu, masuk 2026 ini timelineku kok
penuh dengan video ide AI, digital content, cara dapat duit dari affiliate, bla
bla bla, dsb, dkk. Padahal sudah sering reset preferences. Aku tuh ga suka ya
timelineku isinya seragam semua. Haha… Apalagi tentang AI dan digital content
ini. Emang 2026 semua orang wajib pinter AI, bikin conent, dan dapet duit? Kalau
pengennya santai dan kerja biasa aja gimana? Haha…
Seperti yang sudah dinubuatkan, aku sih percaya
bahwa itu semua bisa jadi pintu-pintu masuk fitnah yang memang semakin dipermudah.
Sekarang pasar dan pekerjaan masuk ke rumah-rumah, bahkan kamar-kamar. Rumah
yang seharusnya jadi tempat istirahat dan membina keluarga, sekarang jadi
tempat kerja terus, jual-beli terus! Ya, ide bekerja dari rumah itu ada bagusnya
sih. Tapi kalau terus-terusan pikirannya pekerjaan aja, gimana ngasilin duit
aja bahkan dari rumah, aku yakin kehancuran justru semakin dekat.
Wanita-wanita, ibu-ibu disibukkan dengan HP,
content, check-out, payment, dsb, dkk. Anak-anak main game, worksheet, atau
apalah itu dengan pendampingan seadanya. Semua terlihat indah, terlihat anteng
di content, tapi aslinya? Siapa yang tahu. Aku tetap percaya prinsip easy come
easy go. Sesuatu yang dihasilkan dengan cara yang mudah, pasti mudah juga
keluarnya, mudah juga habisnya.
Uang-uang yang dihasilkan dari content dan
affiliate dengan mudah itu, apa lama bertahannya?
“Oh, saya bisa beli ini itu, bangun rumah, bisa
umroh, bisa sedekah.”
Tapi apakah berkah? Apakah menghadirkan
kenyamanan dan yang paling penting kedekatan dengan Rabb-Mu?
Aku sih takut banget sama harta yang didapat
dengan mudah tapi melalaikan pelan-pelan. Meski siapa sih yang ga pengen dapat
uang cepat dan banyak?
Tapi pliss pikir lagi.
Aku tetap pakai AI, tapi secukupnya. Aku tetap
lihat content, tapi kupilah-pilih. Aku tetap kerja biar dapat duit, tapi ga mau
terlalu capek lah aku! Haha..
Kemudian tentang ilmu. Ilmu yang didapat dengan
mudah dan cara senang-senang seperti game dan ramai-ramai saja, apa akan
bertahan lama di benak anak? Apa sungguh-sungguh bermanfaat ilmunya?
Easy come easy go.
Aku percaya ilmu yang baik dan bermanfaat
didapatkan dengan cara tidak banyak main-mainnya. Tapi dengan ketawadhuan, penghargaan
terhadap ilmu.
Maka aku memotivasi anak-anakku untuk lebih banyak
membaca buku dan memahami isinya, bukan sekedar lewat permainan, pencet-pencet
berhasil.
Begitu juga untuk diriku sendiri, aku memaksa
diriku untuk tidak mudah tergiur dengan iming-iming dapat uang mudah cuma bikin
content, cuma gabung affiliate, bla bla.
Aku tidak mengharamkan. Tapi aku yakin ada
pilihan yang lebih baik dan terhormat, dan aku akan pilih itu.
Aku memaksa diriku fokus dan menikmati mengajar,
menulis sesekali, dan meluangkan banyak waktu untuk keluarga.
Aku memaksa diriku membeli hanya barang yang
benar-benar dibutuhkan dan tertib menabung. Semoga yang sedikit-sedikit ini
justru yang berkah dan menghujaniku dengan ketenangan, melilitku dengan
kebahagiaan, mengejarku dengan kedamaian ugal-galan. Nah lho!
Sebab, mau dibahas seperti apa, dunia content
gemerlap itu pasti ada stresnya. Ih, aku yang ga ngontent aja gampang capek,
gampang stres. Ga mau lah, aku semakin semakin. Haha..
Bahkan yang katanya slow living tapi dicontent-in
itu. Yakin slow? Yakin bahagia?
Kelak, aku juga pengen benar-benar slow living.
Hidup di pinggiran kota, punya rumah berhalaman luas, nanam cabe tomat,
pelihara ayam-kambing. Tapi kalau itu terwujud, insyallah nanti ga masuk kamera
manapun, karena aku pengen yang benar-benar pensiun gitu. Haha…
Sekarang ya okelah kita kerja keras dulu. Kita
bangun dignity. Tahu dignity? Tapi tetap, tidak asal serok. Karena dignity
alias harga diri yang langgeng itu ya didapat dari sikap hati-hati. Kita pengen
tua yang sehat, tidak sakit-sakit karena harta yang tidak berkah. Tidak patah
hati karena pasangan yang tidak amanah, anak-anak yang mbuhlah. Haha..
Apakah aku pernah tergoda melihat pencapaian
orang lain? Oh, TENTU SAJA IYA. Melihat temanku kuliah di univ ternama, ada
yang keluar negeri, ada yang kerja di ibukota, dulu aku pengeen. Tapi
lama-kelamaan kelakuan mereka yang membongkar sakitnya sendiri. Hutang, hubugan
dengan ortu, tanpa anak, tanpa pasangan pasti. Ah, sudahlah.
Aku harus yakin bahwa jalanku yang kupilih
dengan hati-hati dan kadang ada tidak sengaja juga adalah yang terbaik. Pasti terbaik
karena aku percaya Allah dengan sebaik-baiknya cara yang kuketahui. Insyaallah
terbaik karena hal-hal sembarangan sudah coba kueliminasi. Sekarang saatnya
menikmati sambil mempersiapkan nanti. Masalah orang mau jungkir balik asal kita
ga dicelakai, biarin aja. Haha..
Selamat datang kembali di blog ini. Yang dulunya
dikonsep rapi, sekarang mungkin akan lebih apa adanya. Sebab aku memang butuh
tempat menuangkan segala rasa. Eaa.. Tetap elegan insyallah dengan versiku.
Haha.. So, here we go!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar