Minggu, 14 Desember 2014

Hari Ini Setahun Lalu (1)

14 Desember 2013. Jam 2 pagi kebangun gara-gara perut terasa melilit. Terus ke kamar mamake. "Apa mau lahir? Ya nanti pagi-pagi ke bidan. Tidur lagi dulu," tenangya. Dicobalah tidur lagi, tapi melilit-melilitnya tambah asyik.

Jam 4 bangun. Mamake udah sibuk masak,katanya pokoknya siap-siap gasik. Kusempatkan tahajud. Mohon jika memang waktunya, maka mudahkanlah. Setelah itu aku bergegas mandi dan maksa sarapan. Pokoknya harus siap dan kuat.


SMS suami, minta didoakan, ga dibalas. Mungkin masih tidur. Jam setengah 6, mboke datang tergopoh-gopoh. Aku lagi nyapu. Pokoknya dibawa gerak. Mboke bilang, kalau lahir ya lahir yang penting yang gampang. Sebuah doa.

Jam setengah 7 berangkat ke bidan. Diperiksa, tapi belum pembukaan. Disuruh jalan-jalan dulu. Mamake ngantar Panggih ke TK. Kontraksi makin intens. Suami telepon, HP baru dicharge katanya. Kesal, tapi tetap dikuatkan. Jam 9an kaki memutuskan tiduran. Tiap 5 menit perut melilit.

Jam 10 diperiksa lagi, sudah pembukaan 2. Makin, makin melilit. Mengerang. Gigit selimut. Istighfar, istighfar, istighfar. Lepas dzuhur, mulai terasa si jabang makin semangat membuka jalan. Aku hanya ditemani mamake, bu bidan, seorang dukun bayi, dan pembantu bidan. Masuk tahap mengejan, si jabang begitu memaksa keluar.

Jam 13.20 ia lahir. Allohu akbar. Allohu akbar. Lemas seluruh badan, tapi lega tak terkira. Tak ada lelaki. Mamake yang mengadzani. Saking gemetarnya, sampai salah kiri dulu. Lalu diulangi. Sungguh, rasanya langsung mengerti kasih sayang ibu begitu besar. Pada anaknya, lalu anak dari anaknya.

Si kecil lalu IMD. Aku masih kaku menyapanya. "Ayo dek," mencoba menyemangatinya meraih puting. Selebihnya perasaan takjub, bahagia yang membuncah-buncah. Makhluk dari perutku kini ada di dadaku.

Jam 3 mamak dan bapa mertua datang. Mamak sebenarnya sudah tahu dari pagi, tapi tak berani langsung datang ke bidan. Takut ga kuat ngelihat, katanya. Di rumah ia bolak-balik nyapu sembari gemetar dan terus berdoa. "Cantik sekali," puji bapa melihat cucu perempuannya.

Di seberang sana, ayahnya super girang dikabari putrinya telah lahir.Tak sabar dikirimi fotonya, tapi kamera HP sedang rusak. "Mirip mas," hiburku, dan itu benar. Jam 7 malam, kami baru diperbolehkan pulang. Rasanya begitu amazing, di sampingku ada bayiku. Malam pertama menjadi ibu.

Wajahnya ayahnya banget :)


Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar