Selasa, 19 November 2019

Ke Psikologi Lagi

Jumat 15/11/19, saya akhirnya ke psikolog lagi. Kali ini suami yang agak maksa. Setelah saya undur-undur, jadilah malah suami yang ngajak.


Kami datang jam 8 malam. Langsung naik ke lantai atas bertemu Bu Diah. Melihat saya datang dengan suami dan anak-anak, beliau mengatur kursi untuk kami.


Beliau lalu membuka konsultasi dengan bertanya "Bagaimana kabarnya, Mbak?" Saya jawab "Ya begini lah Bu, masih naik turun." Sambil tertawa ragu.


Saat Bu Psikolog mulai menyapa suami, anak-anak pun mulai eksploratif. Azzam merengek-rengek. Saya inisiatif, "Yuk kita keluar, boleh nonton dulu." Jadilah Arra dan Azzam duduk di depan ruangan sambil nonton Youtube. OK lah, Bu psikolog pasti paham kondisinya.


Bu Diah kembali menegaskan bahwa saya mengalami gangguan mood. Pak Kasad alias suami tekun mendengarkan.


Sampailah ia bertanya,"Jadi bagaimana bantuan yang bisa saya berikan?" Lalu ia bercerita apa-apa saja yang telah ia lakukan selama ini.


Rasanya saya seperti sedang digosipi tapi saya ada juga di tempat itu. Pak Kasad bercerita bagaimana saya kalau sedang marah, bagaimana ia mencoba meredakan tapi saya tetap marah, dst dll dkk..


Saya agak mati kutu ya..


Tapi Bu Psikolog kembali mengulang bahwa saya butuh aktualisasi dan penghargaan. Karena beliau bilang saya punya potensi yang kurang tersalurkan. Dan kondisi yang monoton itu semakin memperburuk mood saya yang gampang berubah. Maka saya perlu mencari kegiatan. Apa saja yang bisa membuat bahagia. Karena yang penting bahagia dulu. Nanti lama-lama passionnya pasti ketemu.


Saya bercerita tentang saya yang main ke rumah Mba Mirza, jalan pagi dengan suami, dan mulai menulis lagi. Saya juga menceritakan saya yang kadang masih kelepasan marah sampai Pak Kasad bingung. Sayapun bingung. Begitu lagi.


Lalu Bu psikolog memuji yang sebenarnya Pak Kasad lakukan selama ini. Dan meminta saya untuk berhenti bermain playing victim, berhenti menyalahkan keadaan dan orang lain atas semua yang terjadi. Banyak bersyukur saja untuk semua yang telah terjadi. Dari cerita saya Bu psikolog tahu masa lalu saya. Ia bilang "Ayo donk ganti jadi mental winner."


Saya berusaha mencernanya. Sesuatu yang saya pahami tapi kadang sulit untuk melakukannya.


Penutupnya, Bu Diah mengatakan bahwa beliau sudah paham kepribadian saya. Tapi  yang bisa merubah sifat hanya saya sendiri. Setelah menyemangati kami, saya dan suami, beliau bilang boleh datang 2 minggu lagi. Tapi kalau tidak datang lagi ya tidak apa-apa karena itulah yang beliau harapkan. Beliau percaya suami telah memberikan pendampingan yang terbaik.


Kami lalu keluar dan pulang. Setelah membayar biaya konsultasi lagi tentunya.


Lalu apakah saya puas atau justru menyesal datang ke psikolog karena ternyata hanya begitu saja?


Tidak. Bagaimanapun saya merasa terbantu. Seperti niat di awal bahwa ini adalah salah satu ikhtiar saya memperbaiki diri. Ketika kemarin itu rasanya sudah bingung sekali dan putus asa dengan diri sendiri maka mencari bantuan ke psikolog adalah hal yang benar. Meski akhirnya tetap perubahan dan perbaikan itu dikembalikan ke diri sendiri.


Maka terima kasih Bu Diah. Terima kasih Pak Suami. Terima kasih anak-anak. Atas semua. Semoga saya bisa menjadi lebih baik setelah ini dan seterusnya. Itu saja. Allahuma aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar