Minggu, 10 November 2019

Aku Jebol

Mood baik setelah jalan pagi hari Jumat itu masih bertahan sampai siang. Tapi setelah tidur siang, kepala agak sakit.


Anak-anak kubiarkan bermain di luar sementara aku membereskan beberapa pekerjaan. Setelah beberapa hari sebelumnya rasa tak ada semangat, sore ini rasanya sudah tak nyaman melihat banyak benda berserak.


Sempat kutelepon suami menanyakan mau pulang jam berapa. Katanya sebentar lagi, jam 5an. Kukatakan juga kepalaku agak sakit.


Menjelang maghrib, kupanggil Arra dan Azzam untuk mandi. Setelah beres memandikan keduanya, aku pun ingin mandi. Badan lengket, kepala semakin sakit, dan baju juga agak basah. Tapi Azzam malah naik ke meja makan. Sepertinya ia lapar setelah mandi. Maka kuambilkan nasi dan sop ayam. Kuajak duduk di karpet. Tampak benar Azzam lapar.


Dia kusuapi lahap. Bahkan kemudian menyendok nasi sendiri dari mangkok. Seketika aku jadi senang. Perasaan ingin mandi kutahan dulu. Setelah nasi dan sop di mangkok habis, kutanyai apa Azzam masih mau lagi. Ia mengisyaratkan iya. Maka kuambilkan nasi dan sop lagi. Kusuapi lagi, tapi kali ini sudah mulai pelan makannya sampai akhirnya menolak.


Arra datang duduk di samping Azzam. Kutawari apa mau makan. Ia buka mulut kusuapi. Namun di suapan kedua ia menolak. "Gak mau," katanya.


Aku yang memang sebenarnya sudah merasa tidak nyaman jadi tersulut mendapat penolakan. "Ayo Ra, makan! Lihati makanannya. Bunda mau mandi," perintahku kesal.


Aku bangkit. Tapi sekejap saja kutengok nasi itu sudah ada yang tumpah. Aku tiba-tiba makin tersulut. Arra susah disuruh makan. Tidak menjaga makanannya. Bahkan dilihati juga tidak, sampai akhirnya tumpah.


Rahangku tetiba mengeras. Menahan omelan tapi akhirnya keluar juga. Arra menatapku sedih dan sebal mungkin. Terpaksa dihabiskannya nasi itu. Tapi aku sudah tersulut. Ditambah melihat jam yang semakin mendekati maghrib tapi suami belum juga pulang.


Kutelepon suami. Dua kali baru diangkat. Langsung kucecar kenapa ga pulang-pulang. Masih tanggung katanya, programnya masih loading. Semakin meletup rasanya.


"Kenapa? Kenapa tadi bilang bentar lagi. Aku jebol lagi ini. Anak-anak kumarahi lagi. Sekarang gak tau lagi rasanya. Perutku kaku lagi. Aku gimana ini?" Ceracauku tak karuan.


"Iya, sebentar lagi," pak suami mencoba tenang.


"Kan mas udah paham kondisiku. Masa masih ga ngerti? Ga bisa tolongin aku dulu? Aku jebol lagi ini, udah ditahan-tahan. Sekarang perih lagi perutku. Gimanaa?" Aku makin menceracau, hampir menangis.


Rasa pengin mandi jadi hilang. Kurasakan perut benar-benar tiba-tiba kaku lalu periih sekali. Asam lambung, buih lambung, atau apalah itu bereaksi tanpa bisa kukontrol. Dadaku juga jadi sesak dan sakit. Inikah gejala Psikomatis itu perlahan tapi pasti menguasai tubuhku?


Benar-benar dapat kurasakan dan aku bingung dan kacau lagi rasanya. Kenapa suami rasanya masih tak mengerti aku? Kenapa anak-anak tak kasihan dengan bundanya? Aku jadi benci. Bisikan sedih dan ingin pergi datang lagi.


Namun tak lama suami benar-benar pulang. Ia tak langsung menemuiku yang duduk kesal di ruang tamu. Pulangnya disambut laporan Arra kalau Azzam BAB, jadilah lelaki yang kutahu lelah dari kantor itu langsung menyeboki Azzam. Setelah selesai dan menenangkan anak-anak sebentar, datanglah ia padaku. Kuberikan tatapan marah dan sebal. Masih dengan kepala dipenuhi pikiran "Kenapa kenapa?"


"Gimana ini Mas? Aku jebol lagi. Mas ga ngerti aku. Perutku perih," masih dengan ceracauku seperti di telepon. Dia menatapku bingung, prihatin, sedih juga dan entah apa lagi.


Aku masih terus protes.. Berkali bilang "Aku bingung mas. Mas ga ngerti aku." Karena rasanya masih itu terus yang menyesaki kepalaku. Sampai akhirnya aku benar-benar menangis meraung sesenggukan.


Aku merasa gagal, jebol lagi. Mood yang kujaga baik dari pagi sampai siang rusak saat genting menjelang maghrib. Saat idealnya dalam bayanganku anak-anak sudah mandi, makan dan suami segera pulang. Tapi semua gagal lagi. Ingatan kekesalan yang serupa dari sebelum-belumnya juga seperti terpaksa ditarik lagi. "Aku koq kayak gini terus. Aku koq marah-marah terus. Mas koq ga ngertii aku terus!"


Sakit dan bingung rasanya. Suami terus menenangkan tapi rasanya aku seperti masih sulit menerima nasihat baik saat marah begini. Sampai akhirnya aku merasa mulai lelah sendiri. Aku tergugu melihat wajahnya yang juga bingung dan lelah. Sudahlah ayo maghrib dulu.


Sungguh tak ada yang sempurna dari mood ini jika aku hanya membangunnya sendiri. Kenapa tak kuletakkan saja sebentar, kukembalikan pada pemilikNya saat aku merasa sudah tak berdaya, hampir putus asa lagi.


"Ya Allah, Engkau yang paling tahu isi hatiku, isi pikiranku karena Engkaulah pemiliknya. Engkau yang paling tahu apa yang kuinginkan, apa yang kubutuhkan. Maka tunjukkanlah apa yang terbaik untukku ya Rabb. Lapangkanlah dadaku, jerninkanlah pikiranku. Sembuhkanlah aku." Doaku lirih setelah sholat.


Setelah sholat itu juga suami menatapku. Ia meminta maaf dan bicara lagi. Tapi kubilang sudahlah. Rasanya belum sepenuhnya nyaman ini perasaanku. Nanti adanya malah penolakan terus. Ia bilang maaf itu bisa mempercepat penyembuhan, ibarat katalisator. Kubilang iya, tapi ini mesinnya masih rusak, jadi biar bener dulu, baru nanti dikasih katalisator. Ga bisa kalau masih rusak begini.


Suami lalu mafhum. Entahlah ini benar penolakanku atau apa. Yang pasti aku ingin sembuh dan berubah. Tolong aku dibantu, suamiku. Partnerku, separuh aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar