Minggu, 10 November 2019

Pagi-Pagi Jalan Pagi (Bag.1)

Jumat pagi 8/11/19. "Cepet, Yah!" kata saya kepada suami yang sudah beberapa menit di kamar mandi. Kami mau jalan pagi hari ini sekalian mengantar Arra ke sekolah yang jaraknya 600 meteran saja dari rumah. Seperti yang kami sepakati semalam.


Kami keluar rumah sudah setengah 8. Sudah terang dan lumayan panas. Mau menyalahkan suami yang tadi kelamaan di kamar mandi, tapi tahan deh. Takut mood siapa aja bisa rusak.


Azzam seperti biasa semangat. Menggendong tas kecil bertuliskan nama kakaknya. Lucu.


Dan saya menenteng plastik berisi seikat pete. Buat apa? Buat Mba Mirza. Ini juga kesepakatan saya dan suami semalam. Pengin ngasih stock pete di kulkas buat Mba Mirza yang salfok sama foto peteku. Hehe..


Di jalan menuju sekolah, sembari menjagai Azzam yang berjalan kesana kemari, saya ngobrol dengan suami. Entah kenapa rasanya agak beda. Ngobrol dengan suasana yang tidak biasanya. Ada rasa senang dan hangat. Hangatnya matahari juga nyaman mengenai tubuh, jadi berkeringat.


Sungguh kalau bukan karena pikiran yang sedang rileks, mengantar anak sekolah jalan kaki, matahari mulai panas dan bikin berkeringat serta jalan yang cukup ramai bisa banget bikin BeTe. Tapi ternyata semua bisa di-setting. Bagaimana kita bisa berkompromi dengan pasangan, anak-anak, lalu keadaan. Akhirnya terciptalah mood yang baik. Aku mencatatnya dalam hati moment dan pelajaran ini.


Sampai di depan rumah Mba Mirza, Ayah, Arra, dan Azzam saya suruh lanjut langsung ke sekolah aja dulu. "Ke kantin beli bekal dulu ya buat Arra," pesan saya.


Saya lalu memencet bel rumah Mba Mirza. Karena pintu tidak ditutup rapat terdengar Mba Mirza sepertinya sedang teleponan. Suaranya yang khas itu lho.. Saya menunggu.


"Assalamu 'alaikum.." Salam saya agak nyaring berharap Mba Mirza mendengar dan keluar ke depan. Tapi sepertinya masih asyik teleponan. Setelah beberapa saat akhirnya selesai juga teleponnya dan Mba Mirza menyahut.


"Nurul Ummu Arra kah? Masuk sini masuk!" katanya.


Saya masuk. Mba Mirza tampak agak kaget melihat saya. "Lho Azzam mana?" tanyanya.


"Sama ayahnya sama kakaknya jalan duluan ke sekolah," jawab saya. Mba Mirza masih tampak bingung.


"Iya kami jalan kaki. Suamiku tuh seneng banget kuceritai yang kemarin itu. Yang kata pian obatnya jalan kaki aja itu. Ya udah kuajaki jalan kaki bareng sekalian. Masa' nyuruh-nyuruh tok," jelasku sambil tertawa.


Mba Mirza lalu tersenyum lebar. "Nah iya kan, berasa bahagia kan jalan kaki." Aku ketawa lagi. "Iya mba. Hehe.."


"Ini Mba petenya," kuberikan plastik yang kubawa.


Mba Mirza bikin ekspresi lucu-lucu takjub. "Ah, pete. Jazakillahu khairan."


Aku lalu pamit bilang mau menyusul ke sekolah. Mba Mirza bilang terima kasih lagi.


"Jazakillahu khairan ya Nurul."


"Wajazakillahu khairan." Kujawab sambil keluar dari rumahnya.


Akulah yang harus banyak-banyak ber-jazakillahu khairan kepada Mba Mirza ini.


Jazakillahu khairan wa barakallahu fiik, Mba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar