Sabtu 9/11/19, suami mengajak jalan pagi lagi. Ia bilang malasku harus dilawan.
Aku menatap anak-anak yang masih terlelap. Kami keluar rumah setengah 7 pagi.
Rutenya adalah keluar komplek, ke tempat penjual wadai yang ternyata baru siap-siap, lalu masuk komplek lagi memutar. Kami melihat berbagai macam rumah dan mengomentarinya. Terselip doa dan harapan bahwa saatnya nanti kami punya rumah sendiri, inginnya yang sungguh baik desain dan lokasinya. Sehingga tidak seperti nasib rumah-rumah yang terlalu rapat atau bahkan kurang terawat.
Dan ternyata begini juga rumah tangga. Perlu desain dan perawatan. Sementara kami belum bisa merawatnya dengan "treatment-treatment" mahal atau liburan ke luar negeri atau bahkan impian kami berkunjung ke Tanah Suci, maka semoga ikhtiar sederhana kami ini bernilai di mata Allah.
Ya, kami mungkin terkadang terlalu terfokus menjadi ayah dan bunda yang baik untuk anak-anak atau bagaimana mencapai target sekian-sekian dalam pekerjaan. Tapi kami lupa menjadi pasangan, sepasang suami istri yang harusnya tetap jatuh cinta ke orang yang sama berulang kali.
Maka saat lari pagi itu aku mencoba menatap suami sebagai laki-laki, pasanganku. Tidak menerus sebagai ayah dari anak-anakku. Aku menatap punggungnya lalu wajahnya malu-malu. Wajah dan punggung yang sama selama 6 tahun pernikahan kami, tapi telah banyak memberi cerita berbeda.
Sesekali aku menggandeng tangannya di jalan yang kurasa tak dilihat orang. Masih malu-malu senang. Sementara biasanya tangan itu sibuk macam-macam, aku ingin memilikinya sebentar tanpa gangguan.
Setelah memutar komplek kami kembali ke tempat penjual wadai. Membeli beberapa wadai yang mungkin disukai anak-anak. Suami mencomot satu dan langsung memakannya. Memberi kode kepadaku untuk dibayar. Dasar.
Kami lalu pulang. Ada rasa khawatir anak-anak bangun dan mencari kami. Ada rasa belum ingin pulang dulu. Rasanya seperti anak muda yang curi-curi waktu pacaran. Ehem.
Dan ternyata sampai rumah anak-anak belum bangun. Lega. Tapi parenting must go on. Kami bangunkan anak-anak. Kami teriaki "Ayo kita ke kolam renang!" Mereka mengucek-ucek mata. Hari itu kami ingin melanjutkan kebahagiaan.
Esoknya kami jalan pagi lagi. Pas hari Ahad kan, jadi harus donk. Tapi saat kami akan berangkat, anak-anak menunjukkan tanda-tanda mau bangun. Jadi daripada tidak tenang, kami ajak sekalian. "Ayo kita jalan-jalan pagi!" Komando ayahnya.
Kami menyusuri komplek dengan rute yang berbeda. Bertemu dengan beberapa bapak dan ibu yang juga lari pagi.
Azzam beberapa kali berhenti di pinggir jalan. Mengamati rumput, tanaman, bunga. Kadang mencabutnya. Mengejar ayam, kucing. Menunjuk macam-macam. Memungut entah apa saja.
Arra banyak bercerita dan berkomentar. Aku merasa sedang punya energi menanggapinya. Ia tampak senang dan tertawa. Merasa bebas dan diperhatikan mungkin. Ah, aku suka moment ini.
Suami kalau ada anak-anak maka akan berubah menjadi ayah. Ia yang banyak menjagai Azzam, menggendongnya, pura-pura ngumpet darinya. Bagaimanapun aku menyukainya. Dia dan karakternya. Dia dan anak-anak. Ya, seharusnya aku selalu menyukai dan mencintainya.
Maka esok paginya kuajak suami jalan pagi lagi. Meski hari itu kami sudah niat puasa sunnah dan you know lah hari Senin. Tapi aku ingin. Dan suami ayo aja.
Rute kami masih sekitar komplek. Kami mencoba aplikasi tracking yang baru diunduh, Relive namanya. Kami selfie, masih asyik mengomentari bermacam rumah, dan bahkan kami lomba lari di jalan yang sepi.
Saat lomba lari itu aku teringat cerita tentang Rasulullah yang mengajak Aisyah lomba lari demi menyenangkannya. Sungguh yang diteladankan oleh Rasulullah pastilah indah.
Ada bahagia yang membuncah. Ada gemas disela nafas yang memburu. Ada lucu dan haru. Mungkin itu akibat dorongan hormon adrenalin dan endorfin. Aku mulai ketagihan.
Besok lari lagi? Semoga tetap semangat. Tetap berjalan menuju perbaikan.
Bismillah walhamdulillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar