Bismillah. Lanjut cerita tentang keajaiban-keajaiban setelah konsultasi ke psikolog. Esoknya saya masih ingin meneruskan semangat dan kerileksan yang saya rasakan. Maka tetiba muncul ide: aku nanti mau lihat-lihat poster dan buku di rumah Mba Mirza ah. Sayapun me-WAnya bilang mau datang.
Jam setengah sepuluh pagi saya keluar rumah dengan Azzam. Jalan kaki ke rumah Mba Mirza. Azzam sih senang aja diajak jalan kemana-mana.
Sampai di rumah Mba Mirza, kami disambut kerepotan khas ibu rumah tangga berbalita. Mba Mirza ini baru memandikan Ibrohim yang usianya sekitar 3 tahun. Azzam dan Ibrohim ini teman tapi suka gemes. Hehe..
Selagi Mba Mirza masih memakaikan Ibrohim baju, saya memilih-milih poster anak. Setelah itu Mba Mirza tanya "Nurul mau berangkat tahsin kah?" Mba Mirza yang punya marga Siregar ini memang khas gaya bicaranya. Memanggil saya langsung nama, kadang juga panggil "Ummu Arra".
Saya bilang "Iya sih rencananya."
"Oo kalau gitu nanti kita jalan kaki aja bareng."
Saya tanya apa Mba Mirza udah mau berangkat sekarang. Katanya belum, nanti aja, ada kawannya mau datang sebentar. Maka tiba-tiba saya merasa punya waktu untuk membuka obrolan dengan Mba Mirza ini.
"Lagi bosen di rumah," buka saya.
"Kalau bosen kesini aja. Biasalah itu bosen kalau di rumah terus," sahut Mba Mirza.
"Iya, semalam aku habis dari psikolog.
"HAH? NGAPAIN KE PSIKOLOG. BUANG-BUANG DUIT AJA!"
Aku kaget. Tapi kaget lucu. Seperti yang sudah kubilang, Mba Mirza ini memang khas ngomongnya.
"Bingung Mba.. Aku rasanya bosen dan bingung terus.. Jadi marah-marah terus.. Terus maag kambuh," kataku lirih.
"OH KAMU SAMA KAYAK SUAMIKU BERARTI. GA USAHLAH KE PSIKOLOG LAGI. MAIN KESINI AJA KALAU BOSEN." Tetep ya Mba Mirza dengan suara menggelegarnya. Bikin aku malu tapi lucu.
Diapun lalu cerita kalau suaminya dulu juga seperti aku. Gampang panik dan bingung. Bilang perutnya sakit, dadanya sakit. Takut kalau mati lalu bagaimana istri dan anak-anaknya. Ngotot ngajak ke dokter dan ternyata jantungnya sehat, lambungnya juga bagus. Hanya saja di lambungnya terdapat banyak buih yang dipicu stress. Maka setelah itu Mba Mirza selalu menyemangati suaminya. Dia juga mengajak suaminya sering jalan pagi.
Mba Mirza juga cerita istri dari bos suaminya juga pernah mengalami keluhan yang sama. Yang dokter bilang namanya Psikosomatis. Ibu itu rela ke bayar mahal konsultasi ke banyak dokter. Tapi akhirnya obatnya ketemu cuma: JALAN PAGI.
Lagi-lagi Mba Mirza bilang ke psikolog, ke dokter terus itu cuma buang-buang duit. "Obatnya cuma jalan pagi. Tenang aja. Apalagi kita kan sudah ngaji sunnah. Masa masih khawatir banget sama takdir Allah. Malu lah," katanya. Saya nyengir.
"Iya sih Mba. Tapi saya masih pengin datang ke psikolog 1 atau 2 kali lagi. Biar terurai yang kusut-kusut ini nah di pikiranku. Terus pengin ada sesi sama suamiku juga ke psikolog itu. Biar ketemu," belaku.
"Iya lah.. Tapi bener kalau bosen kesini aja ya. Jangan diam aja di rumah," yakinnya lagi.
"Iya Mba." Aku terharu.
MasyaAllah.. Rasanya seperti "diperjalankan" oleh Allah untuk tiba-tiba pengin ke rumah Mba Mirza dan dibukakan satu rahasia. Bukan rahasia tentang suaminya. Dan bukan cuma tentang bahwa setiap pasangan, setiap rumah tangga punya masalah dan ceritanya masing-masing. Tapi tentang rahasia bahwa untuk memulai hidup lebih rileks dan sehat bisa dimulai dengan: JALAN PAGI.
MasyaAllah tabarakallah.
Pulangnya saya merasa excited donk. Sambil terus mencoba menjaga sabar mengurus bocah lagi karena pas siang itu ayahnya ga bisa pulang dulu karena ada meeting.
Sorenya saya mencoba menyibukkan diri dengan menempel poster yang dibeli dari Mba Mirza. Poster adab anak itu saya gunting-gunting biar bisa dipasang sesuai kebutuhan. Lalu saya kirim fotonya ke Mba Mirza. Dia bilang "kreatif". Lalu kami ngobrol pete. Haha.. Ada kelanjutan ceritanya insyaAllah.
Dan malamnya saat saya cerita apa yang saya alami hari ini dengan Mba Mirza, suami pun jadi excited sekali. Seperti mau bilang dengan bangga "Tuh kan aku bilang juga apa? Aku kan udah sering nyuruh kamu jalan kaki biar sehat." Haha..
Maka malam itu saya menantang suami. "Besok ayo kita jalan kaki bareng. Jangan nyuruh-nyuruh tok. Kan mas juga perlu tu." Saya menunjuk perutnya yang buncit. "Mas kan kalau di kantor juga kurang gerak, duduk terus." Diapun mesem aja.
Alhamdulillah.. Perasaan "feel blessed" itu hadir lagi. Keinginanku adalah semoga bisa terus dijaga. Meski esok tak tahu pasti..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar