Kamis, 07 November 2019

Pengalaman Pertama Kali Konsultasi ke Psikolog; Ga Usah Takut! (Bag.1)

Bismillah.. Itulah yang saya niatkan saat kemarin akhirnya memberanikan diri konsultasi ke psikolog. Begitu juga saat memulai tulisan ini: BISMILLAH.


Tiada yang lebih baik daripada pertolongan Allah. Tapi tetap kita harus berikhtiar. Dan memberanikan diri datang ke psikolog adalah salah satu ikhtiar saya menjemput pertolongan Allah.


Jadi, kenapa saya datang ke psikolog? Karena saya merasa bingung dan bosaaann sekali dengan diri saya.


Koq bisaaa?


Iya, itu perasaan yang hilang-timbul dalam diri saya. Ketika mood lagi bagus, saya merasa hidup saya cukup baik. "Gapapa lah," saya selalu menghibur diri saya sendiri begitu.


Tapi, ketika mood lagi jelek sejelek-jeleknya, saya merasa sangat tidak berdaya. Selalu merasa serba salah. Di rumah terus bosan luar biasa. Tapi keluar atau mau ngapa-ngapain juga males. Yang ada jadinya galak dan marah-marah ke anak, judes ke suami. Sangat mudah tersulut emosi, juga mudah sekali sedih dan menangis.


Ketika sudah marah-marah dan menangis itu lalu mencullah perasaan bersalah dan bodoh sekali. "Kenapa saya begini terus?"


"Kenapa nggak ada yang mengerti saya?"


"Pengin pergi aja!"


"Mati sekalian!"


Sungguh perasaan yang sangat getir dan menakutkan.


Maka setelah berulang kali berusaha mendamaikan diri sendiri. Berulang kali menangis dan meminta maaf kepada suami dan anak-anak. Berulang kali pula terulang kembali, merasa putus asa lagi dan lagi.. Akhirnya saya memutuskan mencari psikolog. Ya, ini saatnya saya mencari bantuan. Tidak bisa lagi cuma rekonsiliasi saya dan suami.


Sore, 6 November 2019 saya mencoba me-WA seorang psikolog yang saya tahu di Barabai, Dwi Meiliyana Majidi. Beliau adalah psikolog di lembaga pendidikan Al Umm Barabai. Saat Arra sekolah di TAUD SaQu Al Umm Barabai, beliau memperkenalkan diri sebagai psikolog sekolah dan siap memberi serta menerima konsultasi kapan saja. *Kalau salah, mohon saya dikoreksi


Sebenarnya saat masih di Barabai pun sudah ada keinginan saya berkonsultasi mengenai diri saya dan Arra. Tapi rasanya masih maju mundur sampai akhirnya terlupa dan kami pindah ke Banjarbaru.


Ya, kepindahan kami ke Banjarbaru boleh diakui memang penuh drama bagi saya. Dari mencari rumah sewa yang cocok, menyesuaikan pengeluaran, masih terbayang suasana di Barabai, dsb. Jadilah lagi-lagi saya yang merasa paling tidak berdaya. Sementara Arra dan Azzam tampak sangat mudah menerima dan beradaptasi. Sayalah yang merasa terus-terusan bosan, sedih, kesepian, sampai akhirnya kewalahan.


WA saya intinya menanyakan adakah rencana Bu Meiliyana datang ke Banjarbaru dalam waktu dekat, saya ingin konsultasi. Namun, ternyata beliau sibuk dan sayapun minta info adakah kawan beliau yang juga psikolog di Banjarbaru.


Diberilah saya kontak Diah Herawati. Setelah saya WA, alhamdulillah praktek beliau ini dekat saja, di Panglima Batur Barat. Saya pun langsung janjian malam itu juga.


Apa rasanya pertama kali janjian dengan psikolog? Jujur agak takut. Takut tidak sesuai ekspektasi. Takut bayarnya mahal. Hehe..


Tapi Bu Meiliyana pun menyemangati: datang dan ceritakan saja semua.


Saya pikir, "Iya, kalau tidak memberanikan diri sekarang, mau kapan dan bagaimana lagi?"


Maka saat suami pulang menjelang maghrib, saya bilang saya sudah janjian dengan psikolog jam 7 malam ini, tolong antarkan. Suami tidak berkomentar banyak. Dia sudah tahu lama keinginan saya ini. Setelah kejadian malam sebelumnya saya mengeluh perut perih terus karena maag kambuh, lalu uring-uringan, marah-marah, dan nangis-nangis lagi, suami seperti mencoba paham mau saya.


Maka kami pun bersama anak-anak berangkat ke psikolog..


(Bersambung…)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar