Kamis, 07 November 2019

Pengalaman Pertama Kali Konsultasi ke Psikolog; Ga Usah Takut! (Bag.2)

Sampai ke tempat praktek Bu Diah Herawati, saya disambut oleh dua orang wanita. Setelah saya bilang mau konsultasi ke psikolog, saya langsung diajak ke lantai atas. Jadi tempat prakteknya ini merupakan sebuah ruko yang di lantai bawah untuk praktek dokter gigi sementara lantai atas adalah untuk praktek psikolog klinis. Dan ternyata yang mengajak saya ke lantai atas adalah Bu Diah Herawati sendiri. MasyaAllah..


Kesan pertama beliau ini cantik dan baik. Okelah, hilang satu ketakutan dapat psikolog yang gak friendly.. Emang ada gitu psikolog yang gak friendly? Mbuh sih.. Hehe..


Lalu saya dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan kecil. Di depan ruangan itu ada kursi-kursi seperti untuk kelas atau pertemuan. Sedangkan di ruangan kecil itu tentu saja ada meja dan kursi konsultasi.


Saya yang tampak kaku duduknya langsung beliau hibur dengan "Santai saja. Duduknya boleh senderan."


Dan saya pun masih agak kaku cerita. Maka beliau pun menghibur lagi, "Iya cerita aja."


Dengan sedikit terbata-bata saya pun memulai cerita saya.. "Saya ibu rumah tangga.. Tapi belakangan bingung dan bosaann sekali rasanya.."


Bu psikolog tekun mendengarkan saya.. Saat dia tahu saya mulai menahan tangis, "Gapapa bu nangis aja.. Gapapa.. Keluarkan aja," hiburnya.


Saya berusaha bercerita dengan runut. Saya ceritakan latar belakang saya dan suami. Kapan saya menikah, lalu ikut ke Samarinda, saya punya anak, datang ke Barabai dan beberapa lika-likunya. Beliau memastikan usia saya dan suami. Ya, saya dan suami selisih 8 tahun. Saya ceritakan bagaimana suami meminta saya untuk di rumah saja dan mengurus si kecil. Saya kisahkan bagaimana suami tak kurang menasehati dan menghibur saat saya mengeluh bosan dan ini itu. Saya uraikan bagaimana saya coba mensugesti diri saya untuk tidak banyak pikiran. Tapi ketika mood buruk datang rasanya semua tak enak. Tak enak makan, tak nyaman tidur. Pikiran jadi kemana-mana. Dan jadilah marah-marah dan merasa bersalah.


Saya ingin berubah. Saya merasa anak-anak berhak mendapatkan ibu yang tidak sebentar-bentar marah.


Bu psikolog tampak mulai paham masalah saya. Beliau lalu mengeluarkan beberapa kartu berwarna berbeda. Sepertinya ada 7 lembar. Beliau kemudian meminta saya mengurutkan kartu dari warna yang paling saya suka sampai yang paling saya tidak suka. Saya menurut mengurutkannya. Beliau selanjutnya tampak mencatat. Lalu meminta saya mengulanginya lagi.


Setelah itu, beliau menyampaikan bahwa saya mengalami gangguan mood. Saya langsung mafhum. Sepertinya benar itulah yang saya alami sejak lama. Hanya saja saya belum bisa merumuskan istilah apalagi penangannya sendiri dengan benar.


Beliau bilang gangguan mood itu memang naik turun dan menyebabkan rasa bosan serta perasaan tidak berdaya itu tadi. Maka saya harus mencari kegiatan yang saya senangi yang dapat mengisi kebutuhan akan aktualisasi diri saya yang kosong. Dan cobalah cari teman yang nyaman untuk cerita. Agar tidak memendam perasaan tertekan saat ada masalah atau bosan. Mungkin ustadzah atau teman di kajian, sarannya. Saya mencoba mengingat-ingat kira-kira siapa ya..


Beliau kemudian coba merunut pendidikan dan keterampilan yang saya miliki. Saya katakan saya dulu SMK Teknik Komputer lalu kuliah sastra Inggris di UT. Saya pernah jadi guru bimbel sebentar lalu diminta tetangga menulis untuk blognya. Kemudian saya bergabung dengan agency penulisan di Bandung. Saya menulis artikel kesehatan, kecantikan, dan parenting untuk promosi produk seperti Zwitsal, Citra, dan Sariwangi.


Itu berjalan sampai saya hamil dan akhirnya memutuskan cuti ketika akan melahirkan anak pertama. Sempat lanjut menulis saat Arra umur setahun lalu vakum lagi.


Bu psikolog menyela mungkin bisa dimulai menulis lagi. Tapi tidak usah memikirkan untuk mencari uang. Mungkin bisa dengan menulis ringan di blog sendiri. Kalau nanti bosan lagi, ya cari kegiatan lain lagi. Acak saja. Tidak harus menulis terus. Mungkin bersosialisasi atau hal lain. Orang kalau sudah ketemu passionnya pasti rasanya semangat terus walau orang lain lihatnya itu hal sepele.


"Iya bu, itu yang belum saya temukan," kata saya. Lalu saya melanjutkan cerita. Masa-masa di Barabai adalah masa-masa saya terus menyemangati diri untuk jadi ibu rumah tangga yang baik saja. Sampai saya hamil lagi dan lahirlah Azzam. Dan mood yang buruk terus hilang-timbul.


Saya merasa saya banyak tidak bisanya dan jadi sering membandingkan diri dengan orang lain. Padahal saya tahu saya harusnya banyak bersyukur dan bahagia dengan kondisi yang saya miliki. Suami saya sayang. Finansial saya tidak kurang tidak berlebih. Anak-anak ya normalnya anak-anak kadang susah diatur tapi banyak juga menyenangkannya. Sayapun banyak membaca dan rutin datang ke kajian.


Tapi kenapa saya kerap merasa bosan, lalu kufur. Pikiran ingin bekerja dan punya pemasukan sendiri juga sering sekali menghantui. Saat saya putus asa dengan tingkah anak-anak atau suami misalnya. Padahal kalau ditanya mau kerja apa sebenarnya saya juga bingung. Kerja apa yang bisa membuat saya tidak semakin merasa bersalah terhadap suami dan anak-anak? Atau bisnis apa yang bisa saya lakukan tanpa banyak resiko, kekhawatiran ini itu?


Rasanya pikiran saya kusut sementara keinginan jadi macam-macam. Pikiran saya seringkali rasanya seperti jalan sendiri mengkhawatirkan banyak hal.


Sampai bagian ini, wajah Bu psikolog tampak mulai serius dan seperti khawatir dengan cerita saya. Terlebih ketika saya bilang,"Ini terburuknya.. Terburuknya lho Bu.. Saya kadang kepikiran pengin pergi.. Tapi bingung kemana. Atau pengin mati aja sekalian. Tapi yakin, siap?"


Maka benar raut Bu psikolog tampak kaget dan cemas dengan cerita saya. Saya pun agak tak mengira responnya begitu. Tapi saya teruskan saja. Saya katakan saya merasa saya ini sudah punya dasar pengetahuan dari membaca dan ikut kajian, tapi kenapa saya masih bisa kepikiran hal mengerikan begini. Saya takut dengan pikiran saya sendiri. Tolong saya dibantu, Bu.


Bu psikolog seperti lega ketika saya mengakhiri cerita saya. Beliau mengapresiasi dan memuji bahwa dengan saya datang ke psikolog bahkan atas kemauan saya sendiri itu sudah langkah yang benar. Artinya benar ada kemauan dalam diri saya untuk keluar dari masalah. Beliau mengatakan tapi ini tidak bisa dicapai dengan sekali datang saja. Mungkin 2 atau 3 pertemuan lagi. Bu psikolog juga ingin melakukan tes lain kepada saya dan bertemu dengan suami. Saya mengiyakan. Iya, saya akan mengikuti prosesnya.


Beliau bertanya bagaimana rasanya sekarang setelah cerita? Lega kan? Saya senyum saja. Karena rasanya memang sedikit beda tapi entahlah belum plong benar. Mungkin ini proses awal.


Buat yang penasaran biaya konsultasinya: 150rb per jam.


Setelah ini saya ingin cerita "keajaiban" yang mulai saya rasakan setelah konsultasi. Bismillah lagi, semoga besok moodnya terus baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar